top of page

Menjadi Istri Presiden RI 2040

  • Jan 19, 2015
  • 4 min read

Baru-baru ini saya terpikirkan (lagi) tentang mimpi-mimpi saya di masa depan nanti. Entah mengapa, tiba-tiba terlintas dalam benak saya; “bagaimana ya rasanya jadi istri presiden?” hahaha ini sedikit unik dan lucu bagi saya yang sebelumnya tidak pernah tertarik untuk bermimpi seperti ini. Kemudian iseng-iseng saya jadikan status WA saya hingga saat ini. Nah, sekarang saya jadi tertarik untuk bahas ini disini..

Jadi begini, akhir-akhir ini saya seringkali kontemplasi (baca: bengong). Ya, musim hujan begini, paling enak untuk merenung sambil introspeksi diri, bermimpi, dan merencanakan banyak hal untuk hari ini juga masa depan. Saya acapkali mempertanyakan kepada diri saya sendiri dengan pertanyaan yang senada, yang intinya: Mau dibawa kemana hidup kamu, Med? Mau kaya gimana hidup kamu, Mod?


Tujuan hidup manusia memang sudah lama dan sama-sama kita tahu, yakni beribadah kepada Allah SWT. Tapi cara yang ditempuh dan prosesnya kita sendiri yang merasakan, yang menentukan. Lantas saya mencoba memetakan hidup saya secara sederhana, kalau bahasa langitnya: Visi dan Misi. Teringat oleh materi seorang pembicara dalam sebuah seminar saat masih sekolah dulu, katanya ketika ingin merancang sesuatu, yang kita butuhkan pertama adalah tujuan, ya sesuatu yang ingin dicapai, baru setelah itu langkah-langkah yang harus ditempuh, bukan sebaliknya. Jadi konsepnya jelas, tegas.


Dewasa ini, saya bersyukur bahwa semakin banyak orang yang memiliki motto hidup: “Khairunnas anfa’ahum linnaas” Ini kabar baik! Betapa tidak? Hal ini menunjukkan semakin banyak orang yang ingin bermanfaat bagi orang banyak, kan? Mulia sekali. Begitupun dengan saya, mencoba menjadi seperti itu, meski dengan kesadaran penuh, saya sadar saya bukan siapa-siapa, saya belum layak, saya masih banyak kekurangan. Tapi katanya kita harus terus mencoba sambil terus memperbaiki diri. Oke, saya coba.


Saya cinta negeri saya, Indonesia. Saya juga cinta agama saya, Islam. Konsekuensi kecintaan saya terhadap keduanya membuat saya mau tidak mau harus menjadi muslimah yang baik, bahasa kerennya: muslimah negarawan. Kalian tentu tahu bukan kondisi keduanya saat ini? Ya, sama-sama sedang mendaki menuju puncak kejayaan, keduanya sedang tumbuh dan berkembang.


Saya selalu tertarik dengan kisah sejarah yang bercerita tentang peradaban. Para agen peradaban dulu, adalah mereka yang memang

telah selesai dengan urusannya masing-masing kemudian berhasil ekspansi mengurus bangsa dan agamanya. Hasilnya memang terbukti, mereka menyejarah. Sebuah peradaban akhirnya berhasil mereka bangun, dan dalang dibalik itu semua memang bukan orang-orang yang biasa, seperti misalnya saja Muhammad Al-fatih yang berhasil menaklukan Konstantinopel, melanjutkan sekaligus melejitkan pembangunan peradaban Ottoman dalam usianya yang saat itu harus kalian percaya, still on 21st years old!


Sekarang saya ingin membuat pengakuan, bahwa saat ini usia saya sudah menginjak 20 tahun dan belum menghasilkan apa-apa, hanya baru bisa menginjakkan kaki di bumi Al-fatih dengan kebaikan Allah SWT pada April 2014 lalu. Disana saya semakin sadar, bahwa proses penaklukan 1453 M silam bukan hal main-main, ini benar-benar masterpiece sejarah yang berhasil dicetak umat muslim saat itu. Melihat sebuah negeri yang hidup, karena islam hidup di dalamnya. Ini hanya salah satu ilustrasi sejarah luar biasa umat muslim membangun peradaban dari sekian banyak kisah sejarah yang tak kalah hebat lainnya. Tak heran jika umat muslim memang hebat, karena kita meneladani sosok yang hebatnya tak terkalahkan manusia lain, Nabi Muhammad SAW yang cukup dalam 23 tahun benar-benar mampu mengubah perbiadaban menjadi sebuah peradaban!


Saya juga mau!


Saya mau juga berjuang menjadi agen peradaban! Katanya mimpi itu harus tinggi, bukan? Karena saya perempuan, someday I wanna be a President’s wife :)


Kapasitas tertinggi yang mungkin saya bisa capai adalah itu. Saya berpikir, sosok khalifah tertinggi saat ini disebut Presiden. Presiden bisa memberikan pengaruh besar terhadap negeri yang dipimpinnya juga dunia, dia bisa menyebarkan kebaikan islam paling progresif jika dia mau, dia bisa jadi manusia yang paling bermanfaat untuk orang banyak jika dia memang mampu untuk itu dengan keputusan dan kebijakannya, dia agen peradaban paling strategis, terlebih jika dia mampu untuk adil, dia akan banyak mendapat syafa’at kelak di yaumil hisab nanti, didahulukan masuk surga dari pintu manapun ia mau. Tapi tentu saja jika dia tidak mampu dengan amanah luar biasa ini, dia bisa jadi orang paling menderita nanti di yaumil hisab. Benar-benar tawaran yang menggiurkan sekaligus mengerikan!


Dan saya.. hehe saya hanya ingin menjadi pendamping yang baik bagi orang itu, bagi dia yang berani mengambil resiko dunia akhirat tersebut lillahi ta’ala. Untuk dia yang pasti punya energi mimpi yang luar biasa membangun peradaban, untuk dia yang pasti sudah selesai dengan urusan pribadinya. Yap, saya percaya bahwa dibalik laki-laki hebat ada wanita hebat yang senantiasa setia mendukungnya, menjadi partner hidup yang bisa terus jadi sumbu penyemangat hidupnya.


Pembahasan ini masih memiliki subjek yaitu saya sendiri. Saya sedang tidak ingin membahas tentang presidennya yang harus seperti apa, tapi saya yang seharusnya seperti apa jika ingin menjadi seorang pendamping presiden. Hey kalian jangan tertawa ya! Saya berhipotesis, bahwa saya justru yang harus lebih hebat d

ari dia. Ketika dia sedang mencari inspirasi dan semangat, tentu dia mengharapkan itu datang dari saya, kan? Hehe, it’s mean that I must to be more than him.


Peran istri presiden juga saya rasa sangat besar, saya bisa mengerti dan memahami lebih dalam tentang kondisi bangsa dan dunia, yaa kurang lebih nyaris sama lah seperti presiden, yang jika tak mampu justru menjadi boomerang bagi diri saya sendiri. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah..


Kenapa 2040?

Saya hitung-hitung usia saya saat itu (jika masih Allah beri kesempatan hidup) menginjak 46 tahun. Jadi, saya rasa usia segitu pas, tidak terlalu muda ataupun terlalu tua, semoga kondisi badan juga tidak terlalu ripuh untuk mengerjakan banyak hal hebat kenegaraan nanti. Yeah! Hohoho..


Kelak saat itu anak-anak saya sudah besar, jadi orang-orang besar yang tidak ‘berkepala besar’. Ketika tugas saya menjadi seorang ibu telah selesai, yakni membesarkan anak dengan sebaik-baiknya, maka tak salah, bukan? Jika ingin menjadi ibu negara, yang membesarkan negerinya? :’)


Tapi tentu sajaaa… ini bukan mimpi sederhana sodara-sodaraa! Hahaha tidak sesederhana alur cerita yang saya buat pada tulisan ini, hoho tentu tidak! Untuk menjadi seorang istri presiden saya sendiri memberikan kriteria yang tinggi, dia harus menjadi muslimah yang luar biasa! Harus cerdas, berakhlak mulia, mampu mendidik anak dengan baik yaa pokoknya mampu jadi ibu yang keren bagi keluarga kecilnya sendiri, mampu bersosialisasi dengan masyarakat, HARUS PEDULI JANGAN CUEK (ini PR banget buat saya), dan kalau bisa yaa.. dia juga seorang.. hafizhah! *alamaaak T.T

SEMOGA saya mampu mengupayakan dengan sekuat tenaga dan pikiran yang mampu saya kerahkan, saya bisa memenuhi kriteria itu suatu saat nanti. Aamiin yaa mujibassilain.. :”)


Jika pun saya kelak tidak menjadi istri presiden, sama sekali bukan jadi masalah. Semoga apapun saya kelak, tetap bisa bermanfaat. Saya jadi teringat satu pesan seorang kawan, dia bilang begini: Hati-hati kalau punya mimpi, dia bisa jadi kenyataan! *tarik napas dalem-dalem


Terakhir, tulisan ini saya akhiri dengan satu pertanyaan saja:

Siapa yang ingin jadi presiden RI 2040? :) Semangat berjuang untuk siapapun kamu! Karena in syaa Allah aku pun begitu.




Keep Allah oriented!

–Sekian–


 
 
 

Comments


Recent Posts
Archive
bottom of page