top of page

Membuktikan

  • Feb 22, 2016
  • 2 min read

"Akan aku buktikan, kepada diriku sendiri.."

Hai, saat ini usiaku 21 tahun.

Baru-baru ini aku menyadari bahwa usia 21 tahun itu cukup sakral. Kenapa? Entah mengapa, beberapa kali aku temukan pada biografi orang-orang sukses dunia yang memiliki momentum terbaik dalam hidupnya ketika berusia 21 tahun. Pertama, sosok fenomenal yang menginspirasi banyak muslim dunia, Muhammad Al-Fatih. Sang penakluk Konstantinopel itu berhasil menyinari sebuah daerah yang paling ingin ditaklukan oleh para penakluk dunia saat itu dengan cahaya islam dengan izin Allah SWT pada usianya yang ke-21. Bahkan diceritakan bahwa ia telah menguasai tujuh bahasa dan berbagai kemampuan serta strategi perang. Ia menguasai beberapa jenis ilmu, baik agama, sains, juga sastra. Bahkan (lagi) dalam sebuah film yang mengisahkan tentang hidupnya, karpet dalam kamarnya adalah peta dari Konstantinopel. Tiap hari ia mencari alternatif jalan terbaik untuk membawa pasukannya mampu menembus benteng terkokoh yang amat legendaris itu. Dan ia menang. Sungguh menakjubkan!


Mozart, seorang musisi yang sungguh dikenal dunia itu, melakukan karya terkenalnya: komposisi Piano Concerto No.9 pada usianya yang ke-21. Ia menangkan itu. Ia menangkan atas dirinya sendiri dengan etos kerja terbaik yang mampu ia lakukan.


Selanjutnya, dialah Ruben Gonzalez. Seorang atlet kelas dunia, memenangkan berbagai olimpiade pada cabang olahraga which is the most difficult one, Luge. Sebuah jenis olahraga es yang sangat berbahaya. Sembilan dari sepuluh orang yang belajar olahraga ini biasanya akan meminta mundur dipertengahan sekuat apapun tekad mereka di awal. Namun Ruben memutuskan untuk memelajari ini pada usianya yang ke-21. Sebuah usia yang mungkin sangat terlambat. Seorang coach yang mewawancarainya terkekeh mengejek dengan sangat rasonal, bahwa itu adalah hal yang tidak ada kemungkinan sukses di dalamnya. Tapi, Ruben adalah penikmat tantangan yang setuju dengan risiko besar atas pilihannya. Berani, sangat berani menukar semuanya dengan rasa sakit. Bagaimanapun latihannya. Sekeras apapun itu. Lantas terjadilah, semua rasa perih yang ia rasakan selama bertahun-tahun itu terbayar sudah, kini ia menjadi sangat menakutkan di arena permainan Luge. Tingkat dunia.


Lalu aku.


Bagaimana denganku? Aku sungguh tak mau membiarkan momen 21 tahun ini berlalu begitu saja, tanpa ada hal yang menurutku luar biasa terjadi. Yaa setidaknya, hal luar biasa menurutku sendiri. Maka aku tidak berharap, tapi aku berdoa.

Syiar – Siyasi

Formal – Non-formal


Bismillah, ini sebuah kesempatan yang menarik karena in syaa Allah aku akan ada dikeduanya. Bukan hanya pada salah satunya. Mungkin aku akan memerlukan karakter ganda, semoga ini bukan sebagai topeng apalagi kepalsuan. Hanya sebuah cara adaptasi yang harus aku lakukan. Mungkin awalnya menginginkan sebuah penerimaan terlebih dulu, selanjutnya semoga aku bisa sebagai pemenuhan kebutuhan, atas diriku sendiri dan juga orang lain. Kehadiran yang saling butuh membutuhkan bukan sekedar yang ada lantas lambat laun menghilang.


Aku harus bisa.

Menjadi lembut dan akurat di saat yang tepat.

Aku harus bisa.

Menjadi subjektif dan objektif di waktu yang tepat.

Aku harus bisa.

Menjadi ramah dan serius tapi tetap menyenangkan.

Aku harus bisa.

Menjadi profesional untuk keduanya.

Aku harus terbiasa.

Dengan adaptasi yang cepat ini.

Dan aku juga tidak boleh lupa.

Pada keluarga. Pada sekolah. Pada kotaku tercinta.

Depok-Bogor.

Semoga Allah SWT kuatkan. Allah SWT juga mudahkan, pembuktian ini. Sebuah persembahan untuk diriku sendiri, Medina Putri. Aamiin.


 
 
 

Comments


Recent Posts
Archive
bottom of page