top of page

Menjadi Harapan

  • Jul 2, 2016
  • 2 min read

Setiap insan yang terlahir adalah harapan bagi kedua orangtuanya, setiap insan adalah harapan bagi insan-insan yang lain, dan setiap dari mereka akan menjadi harapan bagi bangsanya.


Berat. Ini sangat berat.


Aku rasa menjadi sesuatu yang diharapkan tentu tidaklah mudah. Terbesit kekhawatiran akan tidak mampunya diri untuk mewujudkan apa yang diharapkan orang lain padanya.


Menjadi harapan adalah sebuah tantangan. Kita akan bertarung dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang ada, lawannya tidak hanya orang lain dan keadaan, tapi yang lebih keras adalah bertarung dengan diri sendiri.


Pada satu waktu, aku merasa merinding. Sadar bahwa harapan orang tua kepadaku ternyata begitu besar. Sedangkan aku.. Aku merasa ragu akan daya yang ku punya apakah mampu membuatnya menjadi sebuah kenyataan atau kekecewaan.


Mungkin kali ini aku sedang diterpa angin pragmatisme kehidupan. Tiba-tiba merasa takut dengan label 'harapan' di pundakku. Merasa sangat berat dan merasa tidak mampu. Banyak sekali jasa dan pengorbanan orang lain terhadapku, dan saat ini aku baru bisa terperangah bingung tentang bagaimana cara aku membayar semua itu.


Ingin rasanya aku katakan kepada mereka-mereka yang berekspektasi besar terhadap kehadiranku, bahwa sesungguhnya aku tak sehebat itu. Janganlah kalian membuatku merasa tertekan dengan harapan-harapan ini dan itu. Aku hanya tak ingin kalian merasa kecewa dengan yang bisa aku berikan kelak.


Tapi ternyata yang hadir pada kita bukan hanya harapan ruang lingkup keluarga, harapan yang lebih besar lagi datang dari negara. Entah sebagian dari kita menyadarinya atau tidak, memahaminya atau tidak.


Lantas aku mencoba berpikir dan mencari jawabannya sendiri, kenapa setiap dari kita harus menjadi yang diharapkan?


Dan kesalnya, sederhana sekali jawaban dari pertanyaan ini (yang mungkin ku buat menjadi rumit sendiri):


"Karena jika bukan engkau yang menjadi harapan, engkau hanya akan menjadi yang berharap tanpa berupaya kuat untuk mewujudkan."


Masih normatif sekali.

Tapi ya, untuk langkah awal yang sederhana, kita sepakati dulu.



Jadi, harus apa aku sekarang?


Harus tetap menjaga setiap harapan agar jangan sampai padam dan berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkan.


Karena hasil biarlah Allah swt yang tentukan, semoga kamu tetap bergerak dan menggerakkan. Sambil terus berbenah diri tanpa selalu menyalahkan diri sendiri.


Kita semua berhak berproses, bukan?

Yang jelas, menjadi harapan itu masih jauh lebih baik daripada menjadi yang tidak diharapkan. Hehe. Semoga prosesnya efektif dan efisien.


Semoga Allah swt mampukan! Aamiin :)





 
 
 

Comments


Recent Posts
Archive
bottom of page