Pertarungan Ide (1)
- Jul 8, 2016
- 5 min read

Ini bukanlah sebuah tulisan perbandingan mazhab atau isme-isme yang berkembang dalam dunia sosial humaniora. Ini hanyalah sebuah tulisan sederhana dari anak muda yang bukan siapa-siapa. Tentang aku yang telah menemukan kembali keberanianku untuk bermimpi. Setelah sebelumnya, entah mengapa gairah mimpiku tak begitu besar dan tergantikan dengan masa refleksi panjang tentang berbagai hal yang ku pertanyakan sendiri.
Masa SMA-ku menjadi awal yang sangat baik untuk memulai segalanya hingga sampailah aku di detik ini. Tahun pertamaku kuliah aku merasa berhasil melewati itu dengan begitu baik. Tetapi, setelah itu aku memilih untuk berpikir dan merenung cukup lama. Harus mencari banyak jawaban dan inginnya diri segera ku temukan, namun apa daya.. Ternyata tak semudah mencari koin dalam kolam. Tapi aku rasa aku memang sedang berproses dan belajar, ku pikir lebih baik bingung saat ini dibandingkan harus bingung di masa depan.
Tentang sebenarnya aku ini siapa dan apa perannya. Menyukai apa dan harus bagaimana. Apa dan bagaimana lalu mengapa. Aku berputar-putar disana. Ini hobi bukan passion. Ini hanya harapan dan ini cita-cita. Itu keinginan sedangkan itu nafsu. Lebih baik mengalah atau mempertahankan. Dialektika ini terkadang membosankan tapi tak ingin ku tinggalkan.
Aku akan sedikit bercerita tentang kegalauanku, yaa entah ini menarik bagi kalian atau tidak tapi barangkali bagi kalian yang juga pernah, sedang, atau mungkin akan merasakannya bisa mendapat sudut pandang baru. Sebelumnya, aku ingin memperingatkan di awal bahwa ini adalah sebuah pemikiran personal yakni ku olah sendiri dari hasil internalisasi yang cukup alot. Tingkat subjektivitasnya tentu tinggi. Selera, passion, mimpi sudah pasti berbeda tiap orang. So, aku tidak memiliki kepentingan khusus untuk membuat kalian berbuat sama dengan yang ku lakukan, namun mana tahu ada yang memiliki kasus (red: nasib) yang sama denganku, ini mungkin akan menjadi menarik. Karena aku pun begitu, kemarin-kemarin itu senang sekali jika mendapat sebuah pemikiran baru dari orang yang juga merasakan hal sama sepertiku.
Passion yang tak kunjung ditemukan
Ini sesi yang cukup pelik. Saat ini anak muda banyak sekali yang membahas tentang satu fenomena baru bernama passion. Pasca pidatonya almarhum Steve Jobs bertema Life Design yang terasa keren itu tiba-tiba saja sebuah kosa kata beken ini muncul merebak menjadi pembicaraan hangat para educated people di seluruh dunia. Tiba-tiba saja setiap orang menjadi sangat sibuk mencari apa passion-nya dan tak terkecuali diriku sendiri. Dalam hingar bingar ini, aku bak menjadi orang hilang yang penuh kebingungan. Beberapa kawan yang katanya telah menemukan passion-nya memang terlihat lebih memiliki bright future dan membuat orang lain ingin segera menemukannya juga. Dulu, aku kira aku telah menemukan passion-ku tapi ternyata bukan, sepertinya hanya sebuah kesukaan atau hobi atau bahkan hanya sebuah obsesi. Hanya sementara, bosan lalu ku tinggalkan.
Aku cari lagi.
Aku bertanya dengan kawan-kawan di sekitarku.
“Lo kan jago gambar, Mod.”
“Lah itu tulisan lo keren.”
“Med, lo tuh ya ada potensi di keduanya loh!”
“Kayanya lo jago ngomong. Suka cerita, kan? Konsultan apa motivator mungkin.”
“Hmm apaan yak? Ustadzah kali! Wkwk”
“Medina mah calon anggota DPR RI kalee.”
Aku merenung.
Hmm
Bapak Nelson Mandela pernah ngomong gini: Stand for people, not for ideas. Aku pikir ada benarnya juga, meski pertarungan ide itu harus dilakukan, tapi kalau tidak melibatkan pembelaan untuk kepentingan orang-orang ia akan lemah atau bahkan bisa berubah wujud menjadi ambisi pribadi. Tentu hal ini menakutkan.
Lantas, suatu waktu dalam perjalanan aku dikenalkan pada kemanusiaan. Sedari dulu aku memang selalu tersentuh dengan hal ini. Meski hidupku tidak sampai pada titik bernama penderitaan, setidaknya pada titik terendah kesederhanaan hidup pernah aku rasakan. Dan rasanya tentu menginginkan hidup yang lebih baik.
Aku tak pernah bisa membayangkan rasa sakit dan perihnya tidak makan berhari-hari, tidur beratapkan langit dan beralas sehelai kardus, mengais-ngais gunungan sampah yang kotor dan busuk baunya, kulit yang terbakar terik mentari, atau sekedar meminum seteguk air bersih yang begitu sulit dicari. Bahkan, pada era digital kini pun perang angkat senjata masih juga terjadi!
Tapi inilah kenyataan dalam konteks kemanusiaan yang selalu saja timpang.
Seorang tokoh sekaligus jurnalis kemanusiaan, mas Sunaryo Adhiatmoko pernah menyampaikan materinya dalam sebuah forum pelatihan kepemimpinan yang ku ikuti dan sangat berhasil mengacaukan pikiranku hingga sekarang. Beliau bercerita bahwa suatu ketika Nabi Musa a.s bertanya pada Allah SWT, dimanakah ia harus mencari-Nya, dan Allah SWT menjawab “Carilah aku di antara orang-orang kecil, di tengah-tengah mereka yang hancur hatinya.” Ibarat sihir, saking ajegnya materi itu menerobos masuk ke dalam relung otak dan hatiku, setiap slide-nya masih bisa ku ingat jelas. Saat disampaikan pun, bulu kudukku merinding hingga mengguncang ujung tenggorokanku lalu seketika terasa sakit menahan hormon air mata yang mulai bekerja. Menguras mata hingga merah, memeras hati hingga terasa pilu, nuraniku menjerit dan memaki jiwaku yang hanya bisa diam mematung tanpa daya. Tenyata, begitulah secuil rasa perih. Ya, hanya secuil.
Ada hasrat yang menggebu untuk bisa merubah keadaan tiap kali aku melihat fenomena sosial yang dilakoni aktor-aktor kecil kehidupan dunia yang begitu memilukan. Seolah ada bisikan kuat yang mendorongku untuk memilih jalan juang agar hidup bersama desah nafas dan tempo detak jantung yang sama dengan mereka. Aku selalu mengagumi orang-orang yang berani berjuang dan menerjunkan dirinya dalam arena ini. Tidak punya ambisi selain menciptakan senyum dan rasa aman juga keberanian untuk mereka yang selalu dilanda ketakutan, tidak punya mimpi selain menumbuhkan benih ilmu dalam pekatnya kebodohan. Mereka-mereka ini mampu bekerja dengan tingkat ketulusan di atas rata-rata orang kebanyakan. Dan tidak semua orang bisa melakukannya. Tidak banyak yang bisa. Hanya sedikit. Dan sedikit sekali.
Lalu apakah kalian berpikir bahwa aku orang yang cukup berani melakukan ini?
Ternyata tidak juga, kawan. Hahaha. Nampaknya pikiran dan hatiku masih belum cukup lapang untuk menerima konsekuensi yang ada. Kurang lebih begini dialog yang sering terjadi dalam batinku:
Ini bukan caraku – Bagaimana melakukannya dengan tidak seperti itu – Pasti ada acara lain tapi apa? – Harus ada inovasi baru – Ah, ini belum cocok – Kalau begini, bagaimana dengan itu?
Bahkan jika benar-benar buntu, tak jarang ku pikir… Ah, ini akan percuma saja. Rasanya ini sia-sia. Hemmm, kalau sudah begini biasanya aku kembali lupa pada apa yang ku perjuangkan dan memilih menjalani kehidupan selayaknya saja. Sungguh bukan hal mudah untuk memilih jalan kerikil berkelok nan penuh lobang manakala jalan aspal lurus nan mulus juga terbentang untuk kita.
Aku pikir, telah menemukan passion saja belum cukup. Temukan juga tentang value. Dan sepertinya inilah yang akan ku pilih... (cont)
Melanjutkan studi S2: Iya atau tidak?
Wah ini pertanyaan maut. Langkah mana yang tepat atau tidak it’s really depend on me. Mungkin kalian juga seringkali berdiskusi tentang perihal ini dalam berbagai forum. Aku juga telah bolak-balik melempar tanya, menerima saran, mendebat jawaban, dan akhirnya kembali merenungkan. Aku perlu ini atau tidak?
Di awal kuliah aku ingin melanjutkan S2 di luar negeri, sebuah tantangan menarik untuk diperjuangkan. Tapi kemudian dipertengahan aku berubah pikiran jadi tidak ingin karena merasa sepertinya tidak perlu mungkin aku yang belum menemukan juga tujuan nyata dari aku di pasca S2 nanti. Aku sepakat pada istilah jangan genit S2, istilah yang digunakan untuk orang-orang yang melanjutkan studinya dengan tidak memiliki alasan cukup kuat. Akan tetapi suatu ketika aku dibuyarkan kembali oleh percakapan singkat dengan seorang kakak tingkat,
“Saya juga sepakat dengan itu, tapi kalau untuk perempuan terlebih kamu yang sudah punya akses dan banyak dukungan kesempatannya lebih besar. Sayang kalau tidak dimanfaatkan.”
“Tapi kak, blablabla…”
“Ya terserah sih.. Tapi kalau boleh saya sarankan kamu punya potensi ke sana. Sayang banget, kalau kamu laki-laki mungkin ya benar lebih baik cari pengalaman dulu tapi kalau perempuan saya bilang sih selama ada kesempatan ambil aja. Setidaknya beban perempuan tidak seberat laki-laki untuk menafkahi, kan? Ntar kan kamu juga nikah hehe”
Deg.
Target Menikah
“Yah gampanglah kak, aku sih gak begitu nargetin amet. Kalau ada yang siap ya aku siap-siap, kalau belum ya gapapa lanjutin aja terus raih mimpinya. Hehe.” kataku sambil tertawa ringan mengabaikan.
“Lagipula emang susah banget ya untuk nahan gak nikah dulu?” tanyaku antara polos dan sedikit tengil.
“Wah kamu bisa ngomong begitu sekarang ya nanti ngerasain sendiri loh gak gampang untuk menjaga diri. Apalagi perempuan.”
“……”
Sebenarnya aku dalam pembahasan ini tidak mau terkesan cengeng. Diskusi tentang ini menarik tapi tidak mau terlalu antusias. Mencoba biasa saja. Tidak ingin merasa lemah ataupun sok tangguh. Ini manusiawi tapi harus terkendali.
Tapi semakin kesini aku semakin punya target lebih jelas. Mengapa maksimal akhir tahun 201..? Dan perencanaan hidup ke depan pasca menikah nanti. Contohnya, aku pengen tidak punya....
Dan berhubung tulisan ini terlalu panjang jika harus diteruskan, semua jawaban dari dilema di atas in syaa Allah akan aku ulas di Pertarungan Ide part (2): Keberanian mencanangkan jawaban!



















Comments