top of page

istanbul, Turkey (part 1)

  • Jan 20, 2015
  • 12 min read

Bismillah, Assalamu’alaykum, sobat!

Sesuai janji saya pada beberapa kawan dan pada diri saya sendiri bahwa liburan akhir semester 3 ini saya ingin menuliskan sedikit kisah perjalanan saya ke istanbul, Turki saat April 2014 lalu. Laksana hutang sebenarnya, lebih tenang ketika sudah bisa posting di blog ini untuk berbagi pengalaman dengan sobat semua. Oya, sebelumnya saya ingin memberitahukan mengapa saya tulis ‘istanbul’ dengan huruf ‘i’ kecil padahal itu nama sebuah kota, karena ternyata penulisan di Turki seperti itu. Kata teman saya disana waktu itu dia beritahu bahwa akan menjadi beda cara bacanya jika saya tuliskan dengan huruf ‘I’ besar, Istanbul (red: estanbul). Jadi, jangan disangka kalau ke Turki lihat tulisan gede-kecil gitu orang-orang disana alay, yaa.. hehe. Saya juga mohon maaf karena sangat telat membuat tulisan ini, hehe.. Tapi yaa baiklah, Let’s begin!


page.jpg

Saya tipikal orang yang senang bercerita dan bisa dibilang.. sedikit perfeksionis. Tidak sulit untuk memulainya seperti apa karena dalam benak saya rasanya sudah tumpeh-tumpeh kisah yang ingin saya bagi, tapi kemudian inilah yang jadi kendalanya, saking banyaknya sampai bingung yang mana yang akan jadi awal tulisan ini. Tapi tenang, ini hanya basa-basi saya saja.. tentu ketika tulisan ini sudah di depan kalian, pasti saya sudah menentukan awal cerita ini, dan beginilah ceritanya..


Sejak saya masih di SMA dulu, saya aktif di Rohis, saya dikenalkan pada kisah hidup para sahabat, tabi’in, wa tabi’at, sejarah-sejarah hebat yang berhasil diukir oleh para pendahulu, singkat cerita saya sangat tertarik dengan kisah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II, atau biasa kita kenal dengan gelarnya: Muhammad al-Fatih (Muhammad sang penakluk). Kisahnya sangat inspiratif, bisa jadi sumber motivasi saya untuk terus berusaha menjadi agen muslim yang baik dan mendunia. Sejak saat itulah, saya juga sangat tertarik dengan bumi al-fatih, yakni sekarang tempat itu berada di Turki. Ya, Kota istanbul dulunya bernama Kota Konstantinopel yang dalam sejarah disebutkan bahwa kota tersebut adalah kota paling sempurna. Strategis, karena terletak di perbatasan dua benua, Asia dan Eropa. Bahkan, konon Napoleon Bonaparte dahulu pernah beranggapan bahwa jika dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel adalah yang paling tepat untuk menjadi ibu kotanya. Selengkapnya, bisa sobat baca bukunya Ust. Felix Y Siauw; Muhammad Al-Fatih 1453 M. It’s highly recommended to read!


Mimpi besar ke istanbul, Turki

Begitu terpukau dan semakin membuat rasa penasaran saya memuncak terhadap istanbul, Turki mengantarkan saya untuk berani mencanangkan mimpi bisa pergi dan menginjakkan kaki disana. Akhirnya, pada akhir tahun 2013 saya menuliskan 25 mimpi yang saya ingin capai di tahun 2014 dan disusul dua mimpi besar untuk tahun 2015. Uniknya, saya masih belum berani menuliskan mimpi pergi ke Turki pada tahun 2014 dan baru sanggup menuliskan: membuat paper untuk persiapan pergi ke istanbul, Turki pada tahun 2015. Jadi, dua mimpi saya yang saya tuliskan untuk tahun 2015 adalah: 1. Goes to istanbul, Turki, 2. Goes to Japan.

Tapi ternyata prakiraan saya meleset, Allah SWT memang sebaik-baik katalisator do’a dan mimpi. Saya tidak mungkin bisa mengelak jika dalam Lauh Mahfuzh telah dituliskan: Medina Putri (Indonesia) pergi ke istanbul, Turki pada 14 April 2014, kan? Jadi saya pasrah saja, hehehe.. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, saya pun berangkaaat! :)


Saya yang belum mengerti apapun mengenai paper saat itu mulai mencari-cari info seputar ‘Call for paper’ atau semacam International Student Congress or Conferences yang bejibun di internet akhir tahun 2013. Tapi memang tidak mudah juga untuk menemukan yang recommended, karena sebelumnya saya juga sering browsing terkait go abroad dan membaca tulisan-tulisan tentang itu. Banyak informasi dan saran-saran baik untuk bisa saya pertimbangkan bagi obsesi saya pergi ke istanbul, Turkey agar tidak menjadi ambisius, karena tekad kuat dan ambisius memang sangatlah tipis bedanya. Jadi, saya pun harus hati-hati terhadap diri saya sendiri dalam bersikap, dari artikel-artikel bagus yang saya baca, saya tangkap bahwa jika kita ikut konferensi di luar negeri pertimbangkan baik-baik terkait feed back yang akan kita peroleh nanti jika lolos, saya setuju dengan pernyataan bahwa jangan mau jika kita harus membayar dan menanggung penuh semua cost akomodasi kesana terlebih jika setelah dikalkulasikan justru dananya lebih besar dari sekedar jalan-jalan kesana. Yaa jika punya banyak uang, tidak jadi masalah.. Tapi bagi kalian yang mencari sensasi berbeda, kalian harus cerdas menjadi participant, logika sederhananya begini, kita sudah membuat karya hasil pemikiran kita, kemudian apresiasi atas itu tidak ada misalnya, buat apa? Makna apresiasi disini bukan berarti harus selalu berupa piagam penghargaan atau uang tunai ya, bisa berupa keringanan biaya atau sejenisnya kok, intinya kita jangan mau dibodohi, harus tahu mana yang sekiranya kegiatan konferensi yang membangun atau hanya sekedar kepentingan komersial untuk mereka, tapi sekali lagi, saya tekankan bukan berarti saya melarang teman-teman untuk mengikuti konferensi yang ada register payment misalnya, selama teman-teman mampu dan mempertimbangkan baik-baik (tidak hanya karena nafsu semata) it’s okay, keep go up! Saya hanya menekankan sebelum memilih, pikirkan dan pertimbangkan secara seksama dan baik-baik agar tidak menyesal karena bela-belain berhutang besar, setelah kembali ke Indonesia pontang-panting harus membayar hutang yang besar itu. Yaa kalau berhutang sedikit sih tidak jadi masalah, wajar, tapi kalau sampai menjadi beban berat kita setelahnya? Saya rasa itu terlalu memaksakan. But, it's just my opinion and it's just 'bout choice. So, let's think smart! Kemudian tentang karya misalnya, utamakan hasil dari buah pemikiran cerdas kalian atau karya-karya sangat keren yang inovatif kalau bisa kalian publikasikan dulu untuk kemajuan di negeri sendiri. Jangan sampai terperangkap dengan permainan orang luar dengan iming-iming kata ‘International’ lantas teman-teman merasa lebih certified. Gengsi disini mulai bermain biasanya. Kita ini potensial juga, ide brilian yang kita miliki jangan sampai orang luar curi dengan cara halus yang kita sendiri tidak menyadarinya. Keep aware!


Oya, untuk mengikuti semacam paper-paper international seperti itu, yang perlu teman-teman ketahui juga adalah ada jenisnya, ada yang memang berupa kompetisi, ada yang hanya sekedar formalitas kirim abstrak kemudian lolos. Tentunya kalau ingin mencari award saya sarankan teman-teman ikut yang kompetisi, lebih menantang dan qualified tentunya.


Nah itu kurang lebih awalan membosankan yang harus saya sampaikan ke teman-teman semua terkait go abroad yang bukan semata-mata untuk kesenangan jalan-jalan saja. Ini hanya persepsi saya, selebihnya terserah teman-teman :)


Akhirnya, setelah saya menemukan info paper ke Turki yang saya rasa tepat dan cocok bagi saya sebagai seorang pemula di kancah dunia per-paper-an, finally.. bidik!


Saya kirimkan abstrak saya pada 2nd event in annual program-nya Maltepe University (setelah sebelumnya cukup rempong mempelajari hasil paper kakak-kakak tingkat saya atau contoh-contoh yang ada di Google sebagai referensi awal, my english ability yang masih standar tidak menyurutkan langkah saya untuk mencoba, huehe.. Saya meminta pendapat hasil translate saya kepada teman yang jago dalam hal ini), yaa mungkin semacem BEM-nya kali yaa kalau disini. Mahasiswanya beserta dosennya nge-create acara ini tiap tahun dengan tema yang berbeda di setiap fakultas. Biasanya motif mereka mengadakan event skala international seperti ini bisa untuk kepentingan rating universitas atau sejenisnya. Saya ikut dalam event-nya Faculty Art and Science, dengan temanya saat itu: “Addicted to..” Saya memang sengaja mencari yang social science karena tergolong lebih mudah menurut saya, lebih banyak mengulas pendapat dan opini saya terkait tema tersebut, saat itu saya pilih subtheme: Prevention of Addiction.


Oya, saya juga mengajak teman-teman yang lain untuk ikut kegiatan ini, saya share ke grup-grup WA saat itu infonya, tapi ternyata hanya Indah Fitrah Hijriani teman SMP sekaligus teman kampus saya hingga saat ini yang benar-benar mengirimkan abstraknya. Hehe.. Dia ambil subtheme: Addicted to Tech.


Tidak Lolos

Saya berharap lolos saat itu. Tapi hingga tanggal announcement itu hadir, tidak ada e-mail apapun yang hadir ke e-mail saya. Saya akui saya sedikit kecewa saat itu, saya simpulkan saya belum beruntung.


Tapi berbeda dengan teman saya, Indah.. She got an e-mail of acceptance! Dia bilang sama saya saat itu: “Mod, gimana hasilnya? Ada e-mail masuk, gak?” sambil cengar-cengir, saya mulai curiga dia dapat kabar baik. Lantas saya jawab; “Hehe, nggak, Ndah.. Belum beruntung kayaknya, hehehe..”


Nampaknya Indah tahu bahwa saya sangat menginginkan kesempatan pergi ke istanbul, Turki. Dia berusaha sekali agar tidak melukai hati saya, haha, padahal saya tidak apa-apa, walau memang saya akui yaa saya pengen banget! Kebayang dong, gimana rasanya yang ngajak, ngasih tahu detail infonya, paling semangat, tapi dia yang tidak lolos.. hahaha kasian. Tapi ya, masa mau disesali? Gak mungkin kaan.. Rezeki sudah ada yang ngatur, toh?

Lanjuut, akhirnya seminggu berjalan.. Indah galau, mau diambil atau tidak kesempatan itu. Pasalnya begini, dalam event tersebut, semua akomodasi selama disana mulai dari makan, penginapan, dan apapun is full free of charge! EXCEPT travel expense. Kalian perlu tahu, bahwa biaya pesawat PP kesana itu kurang lebih 10 juta ke atas! Karena Turki sudah masuk kawasan Eropa, jadi mahal jiddan deh..


Saya memang tidak bisa banyak memberikan saran juga, karena masalah utama sebenarnya, gak mungkin kan Indah berangkat seorang diri kesana? Terlalu beresiko. Oya pengumuman itu hanya berjarak tiga minggu sebelum hari H! Seminggu berjalan dan Indah belum juga memberikan keputusan pastinya terkait ini.


2 minggu menuju hari H...

Hari Jum’at, ya saya ingat betul hari itu hari Jum’at! Saya sedang buka e-mail untuk mengirimkan tugas. Iseng-iseng saya liatin e-mail yang ada di inbox saya. Memang benar, Jum’at Mubarak! Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah e-mail FAS 2014, dengan isi depannya; Congratulation!


Sesungguhnya saya ingin bisa tetap elegan, tapi... tidak bisaaa! Hahaha saya girang dan bersyukur bukan kepalang, abstrak saya diterima. Hingga saat ini saya tidak mengerti mengapa e-mail acceptance itu bisa sangat telat masuknya ke inbox saya -__- Karena dari awal saya yakin, ini event kayaknya bakal nge-accept semua abstrak yang masuk deh (karena bukan kompetisi) *kayaknyaa, dan benar saja!


Tapi kemudian kegirangan saya tak lama dan segera berubah menjadi kebingungan.. Hellooo, dua minggu lagi lhoo, Medinaaaa~ Kamu belum punya passport, kehadiran duit pun belum ada tanda-tandanya sama sekali! Haha.


Dilema

Kali ini saya benar-benar sedang tidak ingin main-main. *yaeyalaah..

Saya buat timeline targetan yang harus saya lakukan dalam waktu hanya dua minggu untuk misi besar saya ini yang hanya tinggal beberapa langkah lagi. Sebelumnya saya memang berencana membuat passport dan sudah mencari info terkait pembuatan passport seperti apa, saya mengurus sendiri pembuatan passport saya di kantor imigrasi Bogor saat itu dalam waktu normal yakni, satu minggu. Indah sudah membuat passport-nya seminggu penuh kegalauannya kemarin. Saya ingat sekali, saat itu sedang masa UTS semester 2. Perjuangan yang menjadi kenangan tersendiri bagi saya pribadi, ketika harus selepas subuh berlari-lari dari asrama TPB IPB menuju jalanan utama depan kampus untuk naik angkot pergi ke kantor imigrasi demi mendapat nomor antrean tercepat, sebab apa? Sebab jam 10 saya harus sudah ada di ruang kelas CCR untuk ujian KALKULUS! Yaa! sekali lagi nih ya.. KAL KU LUS! Omaigat! FYI, matkul itu bisa dibilang the difficult one-nya anak TPB. (Alhamdulillah, meskipun begitu saya bersyukur diakhir mendapat nilai mutu B)


Tapi ah bagi saya yang nekat ini, saya jabanin demi mimpi saya ini, di awal saya sudah katakan bahwa saya tidak main-main dengan misi ini *ceileeh. So, I took the risk. Saya terjang! Saya perhitungkan baik-baik time space-nya, dan oh yeah.. bismillaah! I did it.

Seminggu pertama berlalu, alhamdulillah passport berada di tangan saya tepat sekali ketika ia dibutuhkan! Karena saya harus segera mengirimkan hasil scan-nya to the committee via e-mail and it’s the last day! Allah benar-benar luar biasa pertolonganNya!


Waktu tersisa tinggal seminggu lagi..

Passport beres, seminggu terakhir fokus kami berdua pada pembiayaan. Kami menempuh jalan upaya apapun yang mungkin dan halalan thoyyiban. Mulai dari proposal pengajuan ke kampus, donatur, menemui dosen, keluarga, hingga mengirim e-mail ke perusahaan-perusahaan bahkan kami memanfaatkan momen saat itu yang sedang ramai-ramainya campaign calon legislatif dan presiden dari berbagai parpol kepada mereka semua. Tapi karena mungkin waktu yang sungguh mepet ini, semuanya nihil.


Sempat senang, ketika Indah dapat alamat e-mail Marketing Director-nya G*r*da I*dones*a dari temannya, kita berharap dapat potongan harga tiket pesawat, dan dibalas! But unfortunately, ternyata maskapai itu tidak ada trip ke Turki.. hikss baiklaah, meski gundah gulana, kita tetap berusaha semangat! :D


Saya banyak meminta saran dari teman-teman, dosen, kakak-kakak kelas yang sudah pernah go abroad, saran mereka memang bermacam-macam. Saya ucapkan terima kasih kepada mereka semua yang ikut berperan dalam kisah perjuangan kami ini. Hehehe


Waktu tersisa tinggal beberapa hari lagi..


Kami tawakkal (red: pasrah bukan nyerah).


Kami serahkan upaya yang telah kami lakukan ini kepada Tuhan sejagad raya, Allah SWT. Saya juga pernah membaca kisah perjuangan seorang mahasiswi dari suatu universitas negeri di Indonesia pergi ke Turki dengan kasus yang nyaris sama seperti yang kami alami, dan kisah itu.. happy ending :') mahasiswi itu akhirnya bisa pergi ke sana dengan kawannya. Saat itu, saya semakin yakin, kalau dia saja bisa dengan kasus yang -sumpeh deh- persis banget dengan yang saya dan Indah alami, maka kita juga bisa kok happy ending kaya gitu!


Singkat cerita (yang sebenarnya prosesnya tidak singkat T.T), masing-masing dari kami dalam waktu seminggu terakhir itu mencoba fokus untuk hal pendanaan ini, kami mengomunikasikan kepada masing-masing keluarga kami bagaimana baiknya. Saya pernah menangis saat momen-momen ini? Oh, sure. Jadi ingat momen dimana setiap selesai ujian, kami selalu janjian di depan lobby CCR saling share tentang perkembangan masing-masing. Iya! Ingat apa yang saya nyatakan di awal, kan? Seminggu itu kami sedang masa UTS! :') Fokus kami benar-benar terbagi untuk belajar dan puter otak nyari duit. Hasilnya? Yah, saya akui saya tidak maksimal saat UTS tersebut. Inilah salah satu faktor penyebab IPK saya tidak bisa optimal (hanya mampu mencapai 3,58), padahal masih TPB (yang biasanya teman-teman departemen saya banyak yang nyaris mencapai 4,00).. Tapi saya mencoba untuk tidak menyesali, dalam kuliah Ekonomi Umum yang saya pahami, ada Opportunity Cost, suatu harga/barang yang harus dikorbankan karena memilih harga/barang lain. Inilah prinsip yang akhirnya menguatkan kami untuk tetap melangkah maju. Haha, kalau ingat saat-saat itu memang lucu, membayangkan raut wajah kami yang benar-benar ada pada puncak kegalauan maksimal. Ketika mungkin teman-teman yang lain hanya galau ujian, kami galau dua hal; ujian dan uang.


Mulai ada titik terang

Setelah saya ceritakan masalah ini kepada keluarga saya, keluarga saya memang alhamdulillah mendukung penuh (sepertinya mereka memang tahu betul mimpi saya yang satu ini karena seringkali saya ucapkan) namun untuk biaya, saya tahu diri, saya bukan terlahir dari keluarga berlimpah. Tapi akhirnya, tante saya mempunyai kenalan seorang temannya yang memiliki travel ke Turki, saya disarankan menemui beliau, siapa tahu bisa membantu. Saya diantarkan kedua orang tua pergi ke kantornya di daerah Jakarta. Alhamdulillah, beliau sangat baik dan sangat membantu saya mewujudkan mimpi saya ini, saya sangat berterima kasih kepada tante saya, Tante Maya dan Pak Ni'am Muiz karena telah menjadi salah seorang yang paling berpengaruh untuk keberangkatan saya ke sana. Saya hanya bisa berdoa untuk membalas kebaikan mereka. Jazakumullah khairul jaza'. Semoga kebaikan senantiasa Allah SWT berikan kepada kalian :) Melalui beliau saya dipesankan dua tiket pesawat Emirat*s yang saat itu paling murah karena waktu yang sudah mepet juga, sebesar 10 juta/tiket dan dibekali wejangan yang sangat berharga berupa pengalaman beliau serta wawasan beliau yang sudah sangat memahami kondisi di Turki. Sebagian besar uang tiket tersebut saya peroleh dari uang beasiswa saya yang saat itu alhamdulillah turun cukup besar, saya pun memutuskan untuk mengalokasikannya untuk ini, saya tahu betul konsekuensinya, setelah kembali ke tanah air, saya harus sangat berhemat.


Bagaimana dengan Indah? Alhamdulillah, pada akhirnya ia juga berhasil memperoleh uang tiket bantuan dari kakaknya, yaa selebihnya untuk pendanaan saya tidak terlalu ingin menceritakan detail disini ya.. hehe, bagaimanapun ini 'rahasia rumah tangga' kami. Pada intinya, kami tidak memperoleh sponsor, hanya beberapa donatur kecil saja.


Berangkat

Tahu rasanya bagaimana mengetahui mimpi besar hampir akan terwujud di depan mata dalam beberapa waktu saja? Ternyata kami berkesempatan mengalaminya!


Bagi kami yang sebelumnya tidak pernah punya pengalaman pergi naik pesawat terbang dan ke luar negeri, menjadi the best first time untuk merasakan sensasi ini! Maklum, bagi saya yang tidak memiliki kampung halaman, mudik saja nyaris tidak pernah! (karena aki-nenek sudah lama menetap di Depok dan sekitaran Jakarta) Tapi saya ingat, kalau senang, jangan berlebihan, jadi sebisa mungkin saya mencoba untuk tetap natural (yang sesungguhnya di dalam hati laksana mercon, meledak-ledak karena rasa syukur tak terhingga) ngahahaha :v


Saya agak lupa tepatnya detik-detik keberangkatan seperti apa, karena berlangsung begitu cepat dan kita sangat disibukkan dengan berbagai urusan masing-masing saat itu. Saya mohon doa dan pamit dengan teman-teman asrama saya, saya terharu dengan pemberian coklat Silv*r Qu**n dan surat kecil sebagai pesan dari Senior Resident saya, Novianti Purnamasari yang memang so sweet. Haha. Kepergian saya diiringi oleh doa tulus dari teman-teman, sahabat, serta kerabat saya. Alhamdulillah.. alhamdulillah..


Saya ingat, waktu itu saya harus berangkat dari rumah (Depok) pukul 2 dini hari (jaga-jaga takut telat) untuk ke CGK (Bandara Soetta) karena pesawat take off sekitar pukul 7.30 WIB dan harus sampai sana sekitar pukul 5 pagi untuk keperluan check-in, dan kalian harus percaya.. saya masih di Bogor hingga maghrib sehari sebelumnya karena kalau tidak salah hari itu adalah hari terakhir ujian, dan pastinya saya harus menuntaskannya terlebih dulu, kan? Ba'da maghrib saya baru berangkat dari Bogor menuju Depok dan belum packing sama sekali. Nice! :) Saya memang menyukai sensasi seperti ini. Hahaha *jangan ditiru


Saya sampai Stasiun Depok Baru sekitar pukul 21.00 WIB lewat dan saat itu saya langsung ke toko buku mencari buku tentang travelling ke Turki atau kamus bahasa turki, minimal ada pegangan untuk saya yang sama sekali NOL untuk perjalanan jauh ini. Tapi sayangnya, sudah dua toko buku besar saya jelajahi.. tidak ada! Ok, fine.


Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 22.30 WIB, Jalanan Margonda, Depok sudah sepi, saya pikir beresiko jika naik angkot sendirian (ntar gak lucu dong kalau besok pagi gajadi berangkat ke Turki gara-gara diculik angkot gitu kan misalnya haha) dan saya belum packing sama sekali *ini dia masalahnya, Mama saya sudah telpon berkali-kali ke HP saya, yap! saya harus cepat sampai rumah, akhirnya untuk pertama kalinya saya sendiri yang memberhentikan sebuah transportasi cukup mewah, mobil sedan kecil berwarna biru berlambang burung seperti lambang Twitter, hehehe Taxi! Haah.. bagi saya yang selama ini hanya menggunakan transportasi umum biasa ala kadarnya untuk seorang diri, ini adalah sebuah pemborosan nikmat yang mau tidak mau harus saya lakukan. Huehehe, jadi ingat ketika itu sang sopir bertanya kepada saya karena melihat repot membawa barang-barang; "Mau kemana emangnya besok, dek?" Lantas saya jawab dengan nada se-enteng mungkin (padahal ini adalah pertanyaan yang membuat hati bergetar hingga sekian skala Richter); "Hehe.. ke Turki, Pak.." Yaaa selebihnya kalian tahulah yaa respon si Bapak sopir gimana hehe


Sampai di rumah

Sekitar 25% memang packing sudah dibantu dan sebelumnya sudah saya siapkan (gak dari nol banget), saya hanya perlu membereskan kembali dan menyortir barang-barang yang sekiranya benar-benar dibutuhkan selama disana. Sebagian besar barang-barang yang saya bawa ke sana adalah barang pinjaman. Haha, beruntung saya memiliki nenek yang sudah sangat berpengalaman ke luar negeri, jadi beliau banyak membantu. Oya jika kalian lihat foto saya, baju-baju yang saya kenakan selama di sana adalah punya tante saya, sekali lagi beruntung saya memiliki tante yang fashionable, haha ini sangat mendukung performa saya selama di sana. *plak Maklum saja, baju-baju saya pun rata-rata adalah turunan dari dia, jarang saya beli baju baru sendiri. Hyahaha. Mawar Anggia Mukti collection.


Finally.. packing has been done!

BIsmillah, saya berangkat dengan diantarkan kedua orang tua ke CGK. Saya dan Indah diantarkan keluarga masing-masing, dan janjian di sana. Indah sudah sampai terlebih dahulu di sana dengan wajah sedikit cemas menunggu kehadiran saya karena dia berangkat lebih awal dibanding saya, jam sudah menunjukkan waktu yang sempit untuk check-in and Voila! Kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya?? Maaf sekali, kali ini harus saya katakan:


..to be continued..


Ini akan jadi cerita perjalanan yang seru! Pastikan kalian tetap mengikutinya ya! Stay tune on my site! ;) Hahaha


 
 
 

Comments


Recent Posts
Archive
bottom of page