Tentang Namaku
- Jan 30, 2015
- 4 min read

Medina Putri.
Ya, itulah namaku. Nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku.
Mungkin lebih tepatnya, Papaku yang lebih dulu mengusulkan nama itu. Begitu menurut cerita yang ku dapat dari Mamaku.
Ada satu hal yang tidak bisa aku jelaskan disini terkait latar belakang mengapa akhirnya nama itu tersemat untukku. Intinya, bagi sepasang suami istri yang baru menikah dan langsung dikaruniai anak ini, tentunya akan mencoba memberikan nama terbaik bagi anak pertamanya, bukan? Dan menurut mereka nama inilah yang terbaik, sebuah nama untuk sang putri pertama.
Seringkali orang menuliskan namaku salah, biasanya menjadi Meidina, Mediana, dan sejenisnya. Hey, salah satu huruf saja itu beda arti loh! Hehe. Nah, dari sinilah, cukup banyak orang yang menyangka bahwa aku lahir pada bulan Mei. Padahal, November.
Nama adalah do’a.
Baru-baru ini aku sadari, aku benar-benar menyukai namaku ini.
Entah mengapa, baru akhir-akhir ini. Aku telah tahu maknanya sejak masih SD, tapi rasanya baru sekarang aku benar-benar senang memiliki nama ini. Aku pikir, masih agak jarang orang yang bernama Medina, meski bukan berarti tidak ada. Banyak juga yang memiliki nama ini, maksudku nama ini tidak terlalu pasaran. Jika kalian coba iseng mengetikkan nama kalian sendiri di Google, kalian akan menemukan apa yang kalian ingin tahu. Dan aku telah mencobanya, aku bukan orang terkenal, jadi saat aku cari diriku sendiri di Google, halaman pertama lebih banyak Medina ‘yang lain’ (tentu Medina yang lebih terkenal, hehe). Terlebih saat ku arahkan kursor dan meng-klik untuk pencarian Images, halaman pertama sebagian besar yang ku dapat adalah gambarnya seorang perempuan yang bermain catur. Nah, dari sinilah, aku baru mengetahui bahwa ada seorang atlet catur perempuan (aku kira usianya tak jauh berbeda denganku) bernama Medina dari Indonesia. Tampangnya cukup elegan, manis, aku tebak dia ‘chinnese’ karena matanya yang rada sipit. Foto-fotonya terpampang dia sedang dalam kompetisi catur mulai saat dia masih kecil hingga telah dewasa saat ini. Sangat terkenal nampaknya, karena di sana disebutkan bahwa ia telah memenangi berbagai kompetisi catur hingga tingkat Internasional. Aku jadi membandingkan dirinya dengan diriku, kalau dia telah menggeluti dunia percaturan sejak kecil, aku pun sama, telah menggeluti dunia menggambar-mewarnai sejak masih kecil seperti dirinya. Untung saja, kita berbeda arena bermain. Tapi mungkin bedanya, aku belum sampai pada ranah internasional seperti capaiannya. Hehe, maybe someday I’ll do it. Aamiin.
Ah, lagi-lagi aku ngelantur kemana-mana. Oke baiklah, yang ingin aku ceritakan di sini adalah tentang namaku. Aku pernah menanyakan tentang arti namaku pada Mamaku. Aku tidak cukup berani menanyakannya langsung pada Papaku saat itu. Kata beliau, itu artinya ‘Putri Madinah’. Tidak se-simple mengucapkannya yang hanya dua kata dibalik itu saja, melainkan aku langsung merasa terkesiap dan tiba-tiba merasa minder. Setelah mengetahui arti nama itu, aku merasa malu jika harus menjawab pertanyaan tentang ‘arti nama’. Aku merasa nama itu terlalu.. berat bagiku yang hanya seorang anak perempuan biasa saja. To be honest, aku merasa doa orang tua ku terlalu tinggi, ekspektasi mereka terhadap pemberian nama itu kepadaku terlalu.. ah ya, itulah.. aku merasa itu kurang pantas diberikan padaku. Bayangkan saja, memiliki nama yang artinya: Putri Madinah! Aku sendiri saja tidak bisa membayangkan! Harus se-perfect apakah dia? Sedangkan aku? Ahahaha. Saat itu aku tertawa, ya, serius! Aku menertawakan diriku sendiri (dalam hati tentunya). Ya, sebisa mungkin aku menghindar dari tiap kali ada pertanyaan yang menjurus tentang arti nama entah sampai kapan tepatnya itu.
Sekarang?
Aku juga lupa kapan tepatnya aku mulai tidak merasa minder ataupun malu lagi ketika ditanya tentang arti nama. Bukan, sungguh bukan karena sekarang aku seolah merasa cukup pantas dengan nama itu. Tapi, karena (lagi-lagi) entah mengapa, setelah suatu waktu aku merenungi namaku. Aku suka. Ya, aku bahkan sangat suka namaku ini. Mengenai artinya? Pada suatu kajian yang ku hadiri, aku dapat sesuatu lagi tentang ini.
Masih ku ingat dan tentu saja ku catat dalam binderku yang biasa aku bawa kemana-mana, sengaja, agar bisa dengan mudah menjadi reminder bagi diriku yang kerapkali sangat mudah lupa. Tema kajian itu (dialog cendikiawan muslim) memang menjadi minatku dewasa ini; “Peran Agama, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya dalam Membangun Peradaban.” Jadi si pembicara mengatakan begini;
“..Madiinah berasal dari kata ‘addiin’, yakni tempat dimana agama diimplementasikan..”
Seketika aku merinding. Ini berat sekali. Sungguh.
Jika aku tidak bisa menjalankan agamaku dengan baik, Islam, sungguh rasanya aku terlalu hina untuk bisa memiliki nama ini.
Segera kutuliskan pesan itu menurut interpretasiku di kertas binder biruku. Aku sangat tertarik dengan kalimat yang disampaikan sang pembicara itu. Aku memang selalu tertarik dengan Kota Madinah, yang jika kita belajar Bahasa Arab maka akan ditemukan bahwa ‘Madinah’ dalam arti Bahasa Indonesia berarti: Kota. Iya benar, nama kota terkenal di Kerajaan Saudi Arabia itu adalah inspirasi utama Papaku untuk menamakan anak sulungnya; Medina. Kalau dalam buku-buku dari Barat misalnya, atau dalam tulisan in english, Kota Madinah akan dituliskan menjadi: Medina. Seperti Mekkah akan dituliskan menjadi: Mecca.
Aku juga menyukai sejarah, terutama tentang sejarah yang bercerita tentang peradaban islam. Aku tahu, bahwa sebelum kota itu disebut Madinah, kota itu bernama Yastrib. Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah dan membangun masjid pertama disana, bernama masjid Quba. Dari sejarah aku berpendapat, bahwa Madinah adalah kota yang aman, damai, dan berpenduduk ramah. Lalu aku? Sudah seperti itu kah? Atau mampu kah seperti analogi itu? Rasanya seperti busur panah tertancap tepat di hatiku. Mungkin sekarang bunyinya seperti terdengar; Jlebb.
Nah, akan ku selesaikan tulisan ini dengan sebuah pengharapan yang tentunya bagi Allah SWT ini sangat sederhana; Aku ingin ke Madinah. Ya! Aku ingin sekali bisa pergi ke sana, ke tempat asal muasal namaku ini, melihat Masjid Nabawi, dll. Aku mau umroh, juga tentu saja, haji. Seperti halnya saat aku berharap aku bisa ke Turki ketika itu, sebuah harapan yang tiap hari aku impikan, harapan yang mampu membuatku bersemangat lagi setelah jatuh acapkali mengingat mimpi itu, dan Allah SWT berkenan mengabulkannya dalam waktu yang bahkan lebih cepat dari yang aku tuliskan. Ah, skenario hidup memang indah. Kita hanya perlu percaya pada-Nya dan berusaha sekuat mungkin :’)
Aku jadi bersyukur memiliki nama ini.
Benar-benar menjadi doa yang bisa membuatku untuk terus bebenah diri. Berupaya keras agar ketidaklayakanku menyandang nama ini setidaknya berkurang sedikit demi sedikit. Meskipun aku sadar, sampai kapanpun juga aku merasa tidak pantas menerima nama ini. Berusaha menjadi sebaik yang aku bisa. Sebaik-baik hamba Allah. Itu saja.
Maafkan aku jika kalian bosan pada diriku yang seringkali bermimpi dan menceritakannya di sini. Sudah pernah aku katakan, bukan? I’m really a dreamer. Aku hanya mencoba mengajak kalian juga, untuk merasakan asiknya bermimpi! Serunya punya impian! :D
Lantas, bagaimana dengan namamu? Apa artinya? Semoga engkau menemukan dan segera menyadari doa besar dibalik nama yang diberikan kedua orang tuamu saat kau dilahirkan di dunia! Selamat berusaha menjadi seperti yang mereka harapkan! Semoga menjadi kenyataan :)



















Comments