top of page

Negeriku Tidak sedang Baik-baik Saja

  • Apr 19, 2015
  • 6 min read

untitled-11.jpg

Hari ini, 18 April 2015. Setahun yang lalu, saat ini aku sedang berada di belahan dunia yang lain, sampai detik ini aku tak bisa memastikan apakah tempat itu benua Asia atau benua Eropa, karena tempat itu berada di antara keduanya. Setahun yang lalu, untuk kali pertama akhirnya aku merasakan sensasi naik pesawat terbang, sekaligus menjadi pengalaman pertamaku pergi ke luar pulau Jawa dan luar negeri. Sebuah tempat yang bagiku sudah cukup kenyang untuk melihat dunia luar selain Indonesia, sebuah tempat yang menjadi mimpi besarku sejak SMA dan yang akan segera menjadi mimpiku lagi untuk sebuah cita-cita. Ya, tempat itu bernama Turki. Semoga Allah SWT sudi untuk menghendaki ia menjadi tempat studiku selanjutnya. Aamiin.


Tak akan mungkin bisa ku lupa, setiap detik sensasi rasanya dari sejak masih menjadi hal yang diperjuangankan sampai detik terakhir kepulangan. Masih terekam jelas dalam memori ingatanku apapun yang ku lihat saat di sana, berbagai macam perasaan, juga keringat, air mata yang awalnya perih menjadi seketika kering, hilang, bahkan rasanya berubah menjadi sangat manis dan menggelorakan. Melihat dengan mata kepala sendiri, menyentuh dengan tangan sendiri, sisa-sisa peradaban, saksi-saksi bisu sejarah, akan membuatmu merinding sendiri! Maka menjadi momentum yang tepat untukmu saat merasakan sensasi itu agar segera konversikan ia kepada perasaan yang menggetarkan sekaligus membarakan tekad, meninggikan mimpi, menguatkan azzam, serta melipatgandakan tenaga. Ghirah-ghirah itu mutlak harus kita miliki, untuk kembali merebut kemenangan dan bangun kembali peradaban yang hanya menjadi cerita sejarah di masa lalu itu menjadi cerita hidup kita saat ini. In syaa Allah!


Baiklah, sampai paragraf ini akan aku hentikan ke-tidakkorelasi-an isi dengan judul tulisanku ini. Pasca euforia setahun yang lalu itu, aku tentu kembali ke tanah airku tercinta, Indonesia. Sejak saat itu, aku sering mendapat pertanyaan-pertanyaan serupa dari kawan-kawan dan kerabat, tentang keinginanku untuk pergi kemana lagi. Aku hanya tersenyum dan menjawab sekenanya saja diikuti kata ‘aamiin’. Tapi mulai saat itu aku jadi banyak terjebak dalam renungan panjang dan berpikir, dalam beberapa waktu tertentu, seperti saat aku dalam perjalanan pulang ke rumah (Depok) dan kembali lagi ke Bogor misalnya, saat senja atau malam hari dengan kondisi hujan, dan aku adalah seorang pengguna setia KRL, stasiun menjadi destinasiku yang paling sering aku kunjungi di masa-masa seperti ini. Menggunakan public transportation di Indonesia dengan segala macam kekurangannya bagiku memberikan kesan tersendiri. Banyak fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita, yang mungkin mudah kita lupakan dalam materi-materi perkuliahan benar-benar ditampakkan wujudnya di sana. Kriminalitas dengan berbagai aspek, ketulusan yang menyentuh nurani, kemiskinan dari berbagai sudut pandang, keramahan yang menghasilkan senyuman, berbagai macam perilaku anomali, kebaikan yang tak terlupakan, egoisme yang menyakitkan, inspirasi tak terbatas yang hadir tiba-tiba, dan banyak hal lainnya, aku jumpai, aku temukan, dan aku dapatkan dari perjalanan keseharian singkatku di negeri ini. Semuanya menyatu dalam keabstrakkan situasi, setitik kemuliaan hingga hegemoni kejahatan bercampur aduk menjadi satu dalam kondisi ini. Pada titik inilah aku terdiam, ternyata negeriku ini memang benar-benar tidak sedang baik-baik saja.


Lalu aku teringat dengan kehidupan di negeri Turki setahun yang lalu itu, sangat kontras. Benarlah sebuah pertanyaan yang pernah diajukan dalam suatu kelas di satu kesempatan, ‘Bagaimana bisa ada orang yang mati karena kelaparan di suatu tempat sedangkan ada orang yang sakit karena kebanyakan makan di tempat lain? Bagaimana mungkin ada yang banyak membuang makanan enak tapi ada pula yang memungut makanan tak layak hanya demi menyambung hidup?’


Aku menghela napas panjang dan memejamkan mata, mencoba mencerna semua ketidakadilan di dunia ini beserta ironi-ironi yang ada. Belum selesai aku berpikir, saat berjalan menyusuri jembatan penyebrangan di Stasiun Bogor aku lihat sudah berjejer beberapa pengemis dengan berbagai rupa. Ada yang sambil menggendong bayi, ada yang tidur meringkuk, penyandang disabilitas, manula, anak kecil, dan sebagainya. Semuanya tampak dengan kondisi kotor, lusuh, dan lemah. Entah memang benar-benar seperti itu atau hanya sandiwara.


Lalu sampai kapan pemandangan ini harus ada?


Aku naik angkot dan mendengar percakapan, ternyata tentang negeri ini lagi. Tentang para pemimpin, para hakim, dan pemangku kebijakan, mereka memang tidak pernah habis dibicarakan. Kemudian aku lihat ada koran, isinya lagi-lagi tentang keburukan negeri ini, kriminalitas yang semakin tinggi dan tak terkendali. Meresahkan! Aku bosan, lalu ku arahkan pandangan ke luar. Aku lihat ada rumah sangat mewah, besar, dan amat megah tapi kemudian aku dibungkam oleh penampakan tepat di samping rumah itu, rumah penuh reyok yang berusaha tetap berdiri menaungi dan nyaris tumbang, tak kuat lagi menahan. Ah, timpang!


Sampai kapan harus seperti ini?


Aku tahu tanyaku ini tak akan mendapat jawaban memuaskan. Bahkan mungkin tak ada jawab atas itu. Benar kata seseorang, kita kesal dengan semua keadaan yang terjadi karena sesungguhnya rasa kesal itu hadir dari ketidakmampuan kita melakukan sesuatu untuk bantu menyelesaikan. Maka, aku mencoba berdamai dengan diriku dan berhenti bertanya tentang semua ini. Bertanya yang tidak ada ujungnya. Bertanya tentang mengapa.


Aku lempar pandanganku ke atas, ke langit yang luas, dan egoku melunak, lalu aku diselimuti rasa gelisah tentang masa depan negeriku ini. Ya, ini semua menguatkan kesadaranku bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Apa kalian juga merasakan hal yang sama? Apa yang bisa kita perbuat?

Ini tidak boleh dibiarkan. Sebab itu kita terlahir sebagai manusia, bukan? Dengan keniscayaan berpikir, merasakan, dan bergerak. Kita tidak mungkin hanya diam kecuali memang jika salah satu dari itu telah mati.


Aku tahu ketika aku mau merubah keadaan, harus ku ubah dulu diriku ini. Ini saja tak mudah dan sungguh belum selesai sampai di situ, karena ini baru tahap awal memasuki jalan juang yang sangat panjang. Aku memang tidak tahu betapa banyak jenis kepentingan yang ada di negeri dan dunia ini. Aku juga tidak tahu perbandingan antara kekuatan orang-orang jahat yang ingin berbuat kerusakan dengan kekuatan yang dimiliki orang-orang baik yang ingin memperbaiki dan bantu menyejahterakan. Aku juga tidak tahu berapa banyak komposisi orang-orangnya, dan tidak tahu berapa banyak orang di antara keduanya. Semua penuh kepura-puraan.


Tapi akhirnya aku tak peduli. Aku sarankan kamu pun begitu.


Tak usah pedulikan kehebatan orang-orang jahat itu hingga timbul rasa pesimis dan sikap apatis tentang kondisi bangsa dan negeri ini. Aku hanya percaya bahwa kehidupan ini diatur oleh Sang Pencipta juga Penguasa. Dan Allah SWT menjanjikan kebaikan luar biasa bagi orang-orang beriman yang berbuat kebajikan. Menjanjikan kemenangan untuk semua kebenaran. Membenci orang-orang yang berbuat kerusakan serta mencintai orang-orang yang memperbaiki keadaan. Kalau sudah Dia mencinta, aku tidak akan pernah meragu tentang pengabulan doa. Tidak akan pernah.


Akhirnya, jawabanku saat ini tentang pertanyaan, ‘mau kemana lagi, Med?’ adalah ‘Aku tidak tahu kesempatan seperti apa lagi nantinya yang Allah beri padaku, tapi untuk saat ini gairahku tentang itu tidak sebesar obsesiku untuk membantu negeri ini keluar dari lubang hitamnya yang rasanya begitu dalam dan pekat. Aku hanya sedang mempersiapkan dan fokus untuk bisa melanjutkan studi magisterku di International Trade Department, istanbul universitesi, Turki jika Allah mengizinkan kelak.’


Sebelum dan setelah itu, aku ingin mengabdi pada Allah, Tuhanku, di tanah ini, kepada mereka-mereka yang bingung dan merasa hampa tentang jalan kehidupan, kepada mereka yang nyaris hilang akan harapan-harapan karena terlalu seringnya harapan itu dimatikan, yang nyaris hilang akan kepercayaan doa ataupun keberadaan Tuhan karena keadaan yang tak kunjung sesuai dengan keinginan. Aku hanya ingin keberadaanku ini bermakna. Aku harap kamu pun sama. Sehingga kalimatnya akan menjadi: Kita hanya ingin agar keberadaan kita bermakna.


Maka aku akhiri tulisan (1) ini dengan terlebih dulu mengajakmu untuk merenung dan merasakan lebih dalam. Untuk bantu ingatkan dan sadarkan aku bahwa negeri ini sungguh sedang tidak baik-baik saja! Sehingga aku harap kita bisa punya landasan kuat untuk terus bergerak dan memperbaiki dengan rentang waktu yang entah sampai kapan. Aku harap, ini akan jadi kegelisahan paling menggelisahkan bagi kita; anak-anak bangsa, tentang keadaan masa depan bangsanya (red: masa depan kita) jika tak jua berbuat sesuatu untuk bantu selesaikan.


Mari berbenah, sudah terlalu banyak debu, kotoran, bahkan bangkai yang membusuk di negeri ini. Harus segera dibersihkan dan dibuang. Pekerjaan berat ini tidak akan terlalu lama dan terlihat berat, jika kamu ajak yang lain untuk ikut bantu bereskan :)



#UntukIndonesia:


I-Support (Indonesia Student Leadership and Political Art)

Semoga ini menjadi sumbangsih kecil yang berdampak besar untuk mampu mencetak pelajar hebat Indonesia ke depan, mencetak pemimpin-pemimpin bangsa yang adil.


Pokedo

Semoga ini menjadi langkah awal kita membangun dinasti bisnis pertanian Indonesia yang kuat dan terintegrasi juga mendunia!


Taman Akar Rumput

Semoga ini bisa menjadi tempat awal terhimpunnya anak-anak desa Indonesia yang menjadi tokoh-tokoh besar pembaharu bangsa nantinya.


Salam 5 Depok

Semoga ini akan jadi wadah yang terus tumbuh berkembang menyebarkan dakwah-dakwah yang mengakar dan senantiasa menawarkan oase di tengah kegersangan zaman.


Dan untuk semua gerakan-gerakan kebaikan lainnya..

Tetaplah eksis! Semoga menjadi investasi kita menuju dunia akhirat. Mari berkompetisi meraih Ridha-Nya.


Karena selalu terngiang dalam telinga dan hatiku: Jika kita bukan bagian dari solusi, maka dapat dipastikan kita adalah bagian dari masalah!


Ingatkan selalu bahwa: Negeri ini sedang tidak baik-baik saja! Kita harus berbuat sesuatu untuk jadi solusi! >:)9 Bismillah! yeah~

“Memerbaharui Indonesia”

-Sekian-

***

Selanjutnya untuk tulisan (2): Mengenyahkan Rasa Kemiskinan


 
 
 

Comments


Recent Posts
Archive
bottom of page