top of page

Aksi: Sesuatu yang akan membuatmu merasa jijik pada dirimu sendiri

  • May 23, 2015
  • 4 min read

Aksi-SPI-2006.jpg

Kemarin, tepatnya pada hari Kamis, 21 Mei 2015. Aku ikut aksi.

To be honest, it’s my first time I do it! Aku memang belum pernah sekalipun ikut aksi selama menjadi mahasiswa. Bukan karena anti, tapi karena selalu ada saja halangan yang lebih penting untuk akhirnya aku memutuskan tidak ikut. Meski ketika awal aku masuk dunia kampus dan mengikuti masa orientasi, aku sudah dikenalkan apa itu aksi dan bagaimana rasanya. Ya, simulasi aksi. Walaupun hanya simulasi, tapi yaa.. at least, itu sudah cukup merepresentasikannya.


Tapi tetap saja, kalau belum pernah merasakan yang sebenarnya belum puas. Kemudian rasa penasaranku memuncak, terlebih setiap kali beberapa kawan menanyakan hal yang sama padaku: ‘Sudah pernah ikut aksi berapa kali, Med?’ glek. ‘Sekali pun saja belum pernah sudah tanya berapa’ celutukku dalam hati. Lalu kujawab ringan, ‘belum pernah’. Tapi tahu apa yang membuatku jadi tersentak? Ekspresi mereka. Tak ku sangka, mereka terkejut mendengar jawabanku. Ekspektasi mereka padaku agaknya berlebihan, memandangku seorang aktivis mahasiswa yang idealis, yang tentu saja sangat aneh jika belum pernah sekalipun ikut aksi.


Maka seperti yang ku katakan di awal: aku tidak anti pada aksi, tapi mungkin juga tidak melulu dan merasa candu pada itu. Aksi adalah salah satu bentuk pergerakan mahasiswa yang pada hakikatnya membuktikan kepada diri mereka sendiri dan juga bangsanya, bahwa ‘Aku Peduli’. Namun akhir-akhir ini aku merasa cenderung menjadi phlegmatis. Setelah sebelumnya yang aku tahu, katanya aku seorang sanguinis-melankolis. Tapi bagiku, mampu menjadi semua itu di saat yang tepat adalah lebih baik :)


Yang membuatku sangat ingin ikut aksi kemarin itu bukan hanya karena tentang rasa penasaranku saja, aku ingin belajar di lapangan secara langsung. Merasakan teriknya matahari siang, baunya keringat-keringat perjuangan, mencoba berteman dengan debu jalanan, serta tentu saja menahan sabar. Uniknya, aku menantang diriku sendiri saat itu: tidak membatalkan shaum sunnah. Aku sudah memaki dalam hati jika kamu sampai harus batal, maka kamu lemah sekali! Ya, aku seringkali tertegun dengan kawan-kawan di kampusku, yang sudah banyak sekali berazzam untuk berpuasa daud. Sedangkan aku? Aku merasa belum siap. Hehe, payah ya? Jadi, kalau shaum Senin-Kamis saja bolong-bolong itu amatlah menyedihkan. Akan tetapi tahu apa jadinya? Aku jadi lebih banyak diam saat aksi, sesekali saja berteriak. Rasanya sudah lemas sekali badan berdiri di dalam tumpukan manusia. Haha, maka aku memilih mengontrol diriku saja agar tidak tumbang, dan mencoba mencerna tiap kata dari orasi-orasi yang digaungkan oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Saya apresiasi mereka yang jauh-jauh datang dari berbagai kota, bahkan ada pula yang harus menyebrang pulau, sesampainya di ibukota? Yang pasti untuk ‘berlelah-lelah’, yang pasti akan ‘berpeluh-peluh’. Ya memang, jalan yang ditempuh untuk menegakkan kebenaran setiap orang tentu saja berbeda-beda, melalui aksi, diplomasi, advokasi, dan lain sebagainya. Dan aku adalah orang yang memandang semua itu baik. Mungkin yang membuatku tidak senang adalah ketika yang satu mencela yang lain karena perbedaan metode yang dilakukan.


Namun, saat aku mendengar dan ikut memekikkan jargon kebanggaan mahasiswa: “Hidup Mahasiswa!” ada satu hal yang aku rasakan seketika itu. Apa? Aku, entah mengapa merasa jijik. Tetiba saja merasa jijik dengan diriku sendiri khususnya, dan pada mahasiswa-mahasiswa lainnya yang berteriak-teriak dengan lantang dan penuh emosional, kalimat-kalimat provokatif yang keluar dengan mudahnya, baik dari mulutku dan mulut-mulut mereka tanpa sadar maupun tidak. Jijik. Menjijikkan sekali ketika *na’udzubillah tsumma na’udzubillah* di masa yang akan datang, justru kita terpaksa menjilat kembali ludah sendiri karena alasan menyedihkan: demi menyambung hidup. Atau begini, ketika mengucapkan 'Hidup Rakyat Miskin Kota!' Tapi pada realita sehari-hari, kita hanya berfikir tentang kesenangan dan kenyamanan hidup, hanya mengusahakan kehidupan terbaik pribadi kita masing-masing. Memanjakan lidah, mata, tubuh, dan angan-angan semu. Kita hanya sibuk dengan semua hal tentang kita. Sadarkah? Aku akui, seringkali aku seperti itu. Mudah patah ketika ingin membuat suatu perubahan. Bahkan mati rasa, ketika melihat penindasan dan pembodohan merajelala dimana-mana. Mengikuti tren kapitalisasi yang telah menjalar di negeri ini. Dan semua sikap kontradiktif kita lainnya yang menjadikan kita ‘ditelanjangi’ di depan umum dan orang-orang menyangka bahwa kita hanya sedang bercanda saat meneriakkan itu. Ah jangan, aku mohon jangan sampai itu terjadi! Atau saat menghadapi kehidupan pascakampus nanti, celakanya kita tidak sadar bahwa kita sedang berjalan menuju sosok yang dulu kita hujat. Yang dulu kita benci sampai mati. Yang dulu kita hina dinakan pada khalayak ramai. Menjijikkan dan mengerikan! Sungguh! Kalau sudah begini, aku saja yang seorang manusia merasa seperti ini, lalu bagaimana rasanya jadi Tuhan? Wajarlah ketika Ia berfirman ‘kaburo maqtan 'indaLlahi antaquuluu maa laa taf’alun’



Maka sikapku saat aksi kemarin itu adalah mencoba merenung di tengan keramaian, mencoba mencari makna dari semua ini, aku harus dapat pelajaran hari itu. Karena aku telah rela meninggalkan kelas responsi Ekonomi Manajerial pula. Maka ku tekadkan dalam benakku selalu; apa? Apa? Apa yang kau dapat dari ini semua?


Alhamdulillah, aku dapat sesuatu. Tentang makna aksi kemarin itu. Aku telah ‘terlanjur’ bersumpah yang disaksikan langit dan banyak orang. Sumpah mahasiswa. Selalu bergetar ketika bibir ini mengucapkan sumpah itu. Sumpah yang membuat bulu kuduk merinding, karena tahu konsekuensi setelah itu adalah perjuangan yang berat. Sebelumnya, aku juga sudah tahu isi sumpah itu dan pernah pula mendeklarasikannya, tapi yang ini beda. Sensasi bersumpah yang disaksikan langit biru siang hari itu lebih mampu menarik jiwaku dengan kuat. Memekikkan kata-kata Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Tertindas Indonesia! dengan peluh-peluh yang bercucuran itu mampu membuatku merasa jijik dengan diriku sendiri tatkala aku sampai sanggup mengingkari itu semua.


Oya aku juga suka aksi yang isi orasinya berbobot. Benar-benar terdengar intelek. Tidak asal-asal saja berucap. Apalagi kalau isinya hanya caci-maki atau pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting lalu diulangi-ulangi lagi, itu hanya pelampiasan emosi dan energi yang tidak efektif menurutku. Aku sarankan ketika kamu memutuskan ikut aksi, kamu harus tahu betul alasan untuk apa kamu ikut. Jadi tidak hanya ikut-ikut saja. Kita harus menemukan makna kita masing-masing tentang keputusan kita bergerak. Ya, itu menurutku.


Selanjutnya, mungkin aku tidak akan sering turun aksi. Tapi aku akan coba langsung mengeksekusi. Aku rasa, ini tantangan yang lebih menantang untuk ditaklukan. Kita harus melaju dengan akselerasi. Seperti kata temanku, Khansa anak UI: akselerasi sampai tingkat maksimal!


Sambil terus mencari tentang cara, makna, pola pikir, waktu, rasa, sikap, dan visi yang tepat. Kalau aku berkeluh, percayalah itu hanya sesuatu yang ingin saja dikeluarkan, ku pastikan itu hanya sementara. In syaa Allah, aku tidak akan berhenti. Aku bergerak selain tentu karena Allah SWT Tuhanku, juga karena proses mengenal aku. Siapa aku. Aku akan selalu bergerak karena itu,


Medina Putri :)


 
 
 

Comments


Recent Posts
Archive
bottom of page