Jangan Bercanda sama Ramadhan!
- Jun 16, 2015
- 2 min read

“WOY! JANGAN MAEN-MAEN SAMA RAMADHAN WOY!”
Entah kenapa, kata-kata ini muncul dalam benakku akhir-akhir ini. Sebenarnya ini dialog yang terjadi antara aku dengan diriku sendiri. Berbincang-bincang dengan diri sendiri memang salah satu hobiku hehe, kalau lagi jalan sendirian misalnya, hal ini kerap kali tanpa sadar aku lakukan. Hitung-hitung sebagai cara untuk aku mengenal diriku lebih dalam. Ya, jika Ramadhan itu dapat kulihat, pupil mataku kini semakin menyusut, ada yang semakin dekat, RAMADHAN SUDAH TEPAT DI DEPAN MATA!
Jangan main-main sama Ramadhan. Jangan main-main sama Ramadhan. Jangan main-main sama Ramadhan! Oh my Rabb...
RAMADHAN 1436 H: Tidaklah boleh sama seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Sungguh, TIDAK BOLEH!
Sekarang sedang minggu-minggu UAS, aku dan teman-teman di IPB saat ini sedang menempuh sesi perjuangan akademik. Tapi sungguh, ada satu pesan yang tanpa sadar aku abaikan tapi pada akhirnya membuat hatiku tidak tenang. “Jangan sampai persiapan UAS menghalangi persiapan Ramadhan!” #Jlebb
Bismillah.. aaaaaaaaaah kencangkan sabuk, tampar kemalasan, tendang rasa jenuh-bosan, gundah gulana, angan-angan yang tak pantas jadi realita, semuanyah! Hati ini sudah hitam pekat berlendir, bau, kotor, busuk! Bersihkan, bersihkan.. Allaah, ku mohon putihkan dan sucikan kembali diri ini.. :’( Yap, aku berusaha menyadarkan diriku sendiri bahwa hanya ada satu-satunya jalan saat ini yang dapat ku upayakan, ketok magic manusia adalah saat Bulan Ramadhan. Ya sebentar lagi!
Aku jadi teringat kesanku sendiri pada Ramadhanku tahun lalu ketika ditanya oleh seorang kawan, jawabanku: ‘Aku harus balas dendam pada Ramadhan selanjutnya! Harus!’ *falling tears*
Ya, kalian boleh menebak premis dari kesimpulan di atas bahwa Ramadhanku kemarin failed. Indikator kesuksesan Ramadhan adalah perubahan diri setelahnya, bukan? Dan aku merasa bahwa perubahanku belum menghasilkan pembaruan yang berarti dalam hidupku saat ini *istighfar*
Ramadhan itu ibarat jika diuji oleh analisis statistik adalah variabel independent yang paling besar signifikansinya terhadap kualitas hidup seorang muslim sebagai variabel dependent-nya. Ramadhan itu variabel independent yang paling mendominasi dan paling mampu menjelaskan tentang perubahan seorang muslim menjadi pribadi yang lebih baik. Ya, Ramadhan itu luar biasa sekali Medinaaaaaaa!!! RUGI RUGI RUGI BANGEEEEETTT KALAU GAK ADA BEDANYA SAMA RAMADHAN-RAMADHAN SEBELUMNYAAAA!
Maka, aku berusaha menyadarkan diriku sendiri dan mengajak kalian semua wahai kawan! Ramadhan bukan hal biasa-biasa saja, Ramadhan bukan sekedar momen tentang sahur, puasa, adzan, sirup, kolak, es buah, bukber ataupun berkumpul keluarga. Yes, but it’s not only those! It’s more than those!
Ramadhan adalah ketika Allah Tuhan Seluruh Alam mengobral pahala besar-besaran! Kebaikan sekecil apapun itu akan dilipatgandakan dengan bilangan-bilangan fantastis yang tidak sanggup lagi bahkan seorang ahli matematikawan dunia menghitungnya! Ah, bahkan setiap malam yang jika kau selalu mengagumi satu buah rembulan di dalamnya, Ramadhan punya satu malam yang lebih baik dari sekedar 1000 rembulan! Realize it! *mejemin mata*
Jadi, Medina.. Jangan bercanda yah sama Ramadhan! Sebuah kesempatan emas bagi kamu yang hanya seorang hamba Allah yang hina dina, ini waktunya untuk memperbaiki kehinaanmu selama ini.
Ramadhan, tampar dan tempalah aku!
Recovery our self, Ramadhan coming so very soon. Yeay!
-Medina Putri, seseorang yang sangat ingin setiap Ramadhannya sukses. Aamiin! :’)



















Comments