Tentang Yang Terlintas
- Aug 7, 2015
- 3 min read
Tentang menjadi dewasa..
Tentang bagaimana harusnya menjaga semangat dan memaknai hidup
Tentang berjuang untuk istiqomah, menjadi hamba, menjadi yang senantiasa rendah hati
Tentang mengenali Sang Pencipta, mencintai-Nya, hingga merindu-Nya
Tentang menjadi anak sulung, mahasiswa, muslimah, dan semua yang seharusnya,
Hidup adalah kata yang paling sulit untuk aku definisikan, apalagi aku deskripsikan. Hidup terkadang bisa menjelma dalam satu kata sederhana, tapi kadang pula bahkan satu kata pun tak ada yang bisa menceritakannya. Tapi akhir-akhir ini, aku bersyukur memiliki nurani. Sebuah perasaan yang terdapat dalam hati manusia paling dalam, yang sesungguhnya selalu membisikkan fitrah kebaikan kita sebagai seorang manusia. Tapi seringkali tak kita sadari keberadaannya, atau mungkin kita sendiri yang seringkali mendustainya. Hawa nafsu memang fitrah lain yang kita miliki, yang jika tak pandai mengelolanya, ia menjadi yang paling berbahaya membunuh nurani.
Saat ini, aku seperti kembali diajarkan tentang kembali pada fitrah. Beberapa waktu yang lalu aku merasa dalam kondisi yang tidak produktif, akhirnya banyak kelalaian yang tercipta karena mood-ku yang buruk. Ketika setan mulai berusaha mendekati dengan memprovokasi rasa jenuh dan bosan pada kebaikan-kebaikan kecil yang aku upayakan, aku mulai goyah lagi. Mulai tak bersemangat lagi. Merasa hampa. Ternyata memang benar, manusia adalah paling pandai soal keluh kesah dan tak mengelak, terkadang mudah sekali patah.
Lalu liburan kemarin, saat rasa mood parahku sampai pada puncaknya aku paksakan untuk membaca sebuah buku judulnya 'Tarbiyah Cinta' yang banyak diambil dari kitabnya Imam Al-Ghazali, Ihya 'Ulumuddin. Sebuah kitab yang tak asing ditelingaku karena sejak SD, saat aku di pesantren aku telah digaungkan soal kitab terkenal itu meski tak pernah tau isinya apa. Tapi alhamdulillah, berkesempatan membeli versi bahasa santainya saat di IBF kemarin. Dan, cukup banyak memberi penguatan serta konsep hidup baru--khususnya bagiku yang baru mencoba memahaminya.
Intinya dalam buku itu adalah membahas tentang hakikat cinta. Ini jauh dari pembahasan cinta yang mungkin seringkali kita baca, yang kadang bertele-tele, kadang manis sesaat, atau saking banyaknya padanan kata untuk mendefinisikan itu justru membuat hambar dan terasa jenuh.
Cinta kepada Allah swt jika benar-benar itu telah kita rasakan, ada satu indikator utamanya, yakni kita akan merasa cinta dengan yang lainnya menjadi biasa saja. Sewajarnya. Akhirnya, kita tak terlalu pusing memikirkan hal-hal kecil yang merepotkan serta melalaikan itu. Mungkin memang tak mudah adanya, tapi betapa beruntungnya bagi mereka yang mau untuk memulai belajar mencinta Tuhannya dengan tulus yang sebenarnya. Mungkin juga tingkat kesulitan setiap orang belajar untuk ini berbeda-beda. Ada yang dengan cepat mampu merasakan kenikmatan cinta pada Allah swt, ada pula yang mungkin harus berupaya lebih keras untuk benar-benar merasakan kenikmatan ini. However it, jalani saja. Toh sesungguhnya waktu kita hidup di dunia ini adalah untuk itu. Untuk terus belajar mengenal Tuhan kita, mencintai-Nya, hingga benar-benar menyadari kehendak-Nya pada kita apa? Agar tidak kufur, agar kita tak hilang arah. Agar kita selamat.
"Jika kau ingin tahu kedudukanmu di mata Allah, maka rasakan saja kedudukan Allah dalam hatimu. Dimana Ia?" :'
Ah ya, memang.. Proses mengenal dan mencintai Allah swt tidak ada batas waktunya, tidak ada predikat lulusnya saat di dunia seperti ini, itu sebuah proses seumur hidup. Ya, seumur hidup!
Mohon maaf, aku memang belum merampungkan buku itu. Jadi belum banyak yang bisa aku share disini. Tapi merekomendasikan buku itu untuk teman2 baca :)
Selamat hidup kembali dengan terus bersemangat dalam kebaikan dan inspirasi2 baru! Karena tak ada pilihan lain untuk menjadi itu jika ingin selamat. Semoga istiqomah, semoga tidak akan berhenti melangkah :))
Wallahu'alam bisshowab.




















Comments