Membuat Senyum Merekah
- Aug 23, 2015
- 4 min read
Selain menyukai penampakan alam raya ini, aku juga menyukai itu: senyum yang merekah!
Selain menyukai kisah-kisah hidup manusia inspiratif, aku juga menyukai itu: senyum yang merekah!
Selain menyukai cerita sejarah peradaban islam, aku juga menyukai itu: senyum yang merekah!
Aku seorang perempuan biasa yang kadang kali merasa bisa membohongi orang lain dengan sikap cuek yang ku buat-buat. Tapi ternyata aku tak sanggup menahannya terlalu lama. Berlagak menjadi perempuan sok cool di depan orang banyak. Keren saja rasanya bila bisa menjadi sosok yang dingin dan misterius. Hahaha. Jangan salahkan aku sepenuhnya terkait hal ini, aku hanya terinspirasi dari tokoh-tokoh anime atau kisah-kisah detektif saja terkadang.
Tapi aku juga bukan perempuan yang amat ceria dan sangat riang gembira. Tidak, aku tidak seperti itu. Aku bisa menempatkannya sewajar mungkin. Aku pastikan tiap aku ‘berulah’ aku tahu tentang kadarnya.
Tapi begini, aku banyak mendapat kesan dari teman-temanku tentang diriku yang katanya aku orang yang murah senyum, selalu bersemangat, penuh keceriaan, dan hal-hal lain yang rasanya menggambarkan aku as person who always happy! Kemudian aku kikuk sebentar mengetahui pandangan orang lain tentang diriku yang nyaris homogen ini. Tiba-tiba aku jadi sedikit sulit menentukan pilihan respon yang harus aku berikan, entah aku mau senang atau aku harus berkerut dahi dan tersenyum miris.
Pernah juga, ada yang bilang padaku bahwa aku ini janganlah terlalu dewasa untuk menutup kesedihan dari teman-temanku dan menyimpan sendiri kelemahanku. Kata dia, aku boleh membagi ruang kelemahan itu pada orang lain jika memang itu perlu. Mungkin dia menganggapku terlalu membohongi diri dengan sikapku saat ini. Ya, terkadang memang perlu untuk sedikit saja membagi beban pikiran dan hati kita pada orang lain. Setidaknya itu sedikit melegakan.
Aku tidak mau membuat ini menjadi seolah dramatis seperti cerita-cerita di komik atau novel yang terlalu sering terjadi, bahwa dibalik orang-orang yang paling terlihat ceria adalah mereka yang kadang menyimpan luka paling dalam. Tidak salah sepenuhnya, pasti ada orang yang seperti itu. Tapi biarlah itu menjadi rahasia mereka masing-masing yang memendamnya. Aku hanya mencoba berusaha untuk tidak semunafik itu. Meski kadang yaa tak ku pungkiri, ada kalanya aku harus seperti itu. Kadang perihnya pengorbanan dan perjuangan, cukup kita dan Allah saja yang tahu. Itu akan lebih membuat kita semakin bijak menyikapi hidup. Hal ini seringkali coba aku terapkan pada diriku sendiri yang sesaat mulai keluar sifat fitrah perempuanku, manja. Berkali-kali aku maki diri ini jika mulai banyak mengeluh manja pada keadaan. Aku mulai benci dengan kelemahan yang aku buat sendiri dengan manja-manja yang ku biarkan tumbuh.
Ah baiklah, begini sederhananya:
Aku hanya sedang berusaha untuk tetap terlihat menyenangkan dengan semua orang sebisaku, bukan apa-apa, bukan semata-mata mencari perhatian, bukan itu. Uhmm.. Sebenarnya aku hanya sedang terus berupaya menjadi kuat dengan energi positif itu. Ini caraku memeroleh semangatku. Kalau kalian berpikir itu berarti aku membohongi diri, mungkin ada benarnya, tapi mungkin juga tidak. Lantas kalau aku sedang tak bersemangat lalu melihat orang lain juga demikian sepertiku, itu hanya akan membuatku semakin tak bergairah menjalani hidup mudaku ini.
Maka, satu-satunya cara untuk menguatkanku jika sedang merasa lemah adalah dengan membuat orang lain tersenyum merekah! Ya! Ini menjadi energi positif yang besar bagiku untuk mengembalikan semangat dan kepercayaan diri. Aku rela saja menjadi bahan bully-an teman-temanku kadang, hanya karena senang melihat senyum-senyum merekah mereka. Aku rela saja menjadi objek jokes yang ku buat sendiri, asal aku bisa melihat senyum-senyum lepas itu dan meraih energi positif dari itu. Tapi sekali lagi aku katakan, tak perlu khawatir aku tahu kadarnya, kok :)
Aku selalu senang bertemu dengan orang-orang penuh senyum di wajahnya, seolah aku mampu melihat harapan-harapan baru di matanya. Aku selalu senang bersama dengan orang-orang yang memiliki rasa humor setara denganku. Terkadang kagum tak habis pikir dengan tiap tingkah dan lawakan mereka yang mudah sekali memancing senyum merekah sampai gelak tawaku di udara tapi tetap pada koridor hikmah. Penatku seolah akan hilang seketika tatkala bersama mereka. Meski itu hanya sementara, tapi yaa kadang bahagia sesederhana itu.
Selain menyukai seni visual, aku juga menyukai seni membuat orang tersenyum merekah.
Tapi sebelum menyukai senyum orang lain, aku juga harus menyukai proses membuat senyum itu
Proses membuat senyum merekah itu tentu berbeda tiap orang, tidaklah sama tingkat kemudahannya. Siapa yang ingin kau buat tersenyum merekah? Apakah orang tua? Keluarga? Teman sejawat? Guru? Atau kah benar-benar orang lain yang baru kau temui?
Mungkin membuat senyum merekah itu juga terkadang bukan perkara mudah. Mungkin kau justru harus menangis dulu untuk membuat orang mau memberikan senyum merekahnya. Apapun itu, bagaimanapun itu, asal itu membuatmu juga bisa tersenyum setelah melihat senyum merekah itu, lakukanlah sesuai dengan caramu.
Jika semakin banyak orang di dunia ini yang justru ingin membuat orang menangis pilu dan tega melakukan itu, maka biarlah aku akan tetap menjadi diriku saja: yang ingin terus membuat orang tersenyum merekah dan menularkan semangat-semangat baru lewat itu, yang mampu menyalakan kembali mata berbinar penuh harapan, yang mampu memantikkan kembali sumbu api tekad tak terpadamkan. Biarlah ia berkobar besar seperti senyum merekah itu hadir di hari yang sangat cerah!
Tentu saja, selain bunga yang merekah, senyum yang merekah itu juga tak kalah indah. Apalagi senyummu. Iya, kamu yang sedang tersenyum mengakhiri bacaan ini. Terima kasih telah tersenyum dengan merekah! Andai tepat di depanmu saat ini ada sebuah lensa kamera dan memotret senyummu itu, pasti akan aku balas. Dengan senyumku yang paling merekah :D




















Comments