TIMPANG!
- Aug 23, 2015
- 3 min read

Timpang!
Ketimpangan dimana-mana! Ketimpangan ekonomi dan sosial. Mereka yang kaya semakin melejit menuju langit, begitupun dengan mereka yang miskin semakin terhempas jauh ke dalam bumi. Laksana jurang nan curam. Jarak mereka kini semakin panjang. Tangan-tangan di bawah itu mencoba meraih tepian atas sebisa mungkin agar setidaknya mengurangi panjangnya jarak itu, tapi tangan-tangan di atas masih banyak yang tak sudi mengulurkan tangannya untuk paling tidak sedikit membantu tangan-tangan kelelahan itu, nampaknya tangan-tangan di atas itu tidak semuanya dermawan, tidak semuanya berminat pada tangan-tangan kurus kering tak mulus itu. Ah ya, mungkin tangan-tangan di atas itu terlalu sibuk bekerja demi apa yang mereka sebut kebahagiaan. Tunggu, apa jangan-jangan mereka salah menafsirkan hadits Nabi bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah itu? Oh tidak mungkin, tentu saja mereka tidak sebodoh itu!
Timpang!
Betapa banyak kita lihat fenomena kota dengan hingar-bingarnya itu ternyata seringkali melahirkan ironi-ironi baru. Gedung-gedung raksasa yang menjulang menembus awan dengan angkuh tak bergeming, tak peduli pada betapa banyak reotnya bangunan rumah para penduduk yang terpaksa terpinggirkan. Mobil-mobil ternama dengan gagah melintas membelah tak mengalah pada jalan-jalan panjang kota itu tanpa pernah menghiraukan sepeda-sepeda butut apalagi sekedar bajaj bersuara parau itu di sampingnya. Orang-orang kota itu nampak selalu sibuk dengan dirinya sendiri, dengan semua aktifitas sehari-harinya. Ada mereka yang berjalan begitu cepat dengan tatapan pasti pada arah yang ia tuju, tapi ada pula yang berjalan begitu lambat dengan tatapan nanar penuh kekosongan, entah apa yang sedang ia pikirkan. Ada yang begitu sibuk, tapi ada pula yang begitu santai. Ada yang terus menerus mengutuki nasib tersebab tak puas, ada yang senantiasa tersenyum tegar menerima dengan ikhlas.
Timpang!
Tentu saja ini juga terjadi pada urusan perut. Kau harus percaya! Kelaparan masih terjadi di negeri yang nyaris sempurna ini! Aku semakin tidak paham dengan semua ini ketika di satu waktu yang bersamaan banyak perut-perut buncit yang kekenyangan dengan mudah membuang makanan mereka yang masih sebagian utuh itu. Tidakkah mereka meyadari bahwa di luar sana banyak sekali yang menjerit untuk sekedar sesuap nasi?! Hey, tuan-tuan dan nyonya-nyonya bangsawan juga konglomerat! Kalian semua harus tahu bagaimana rasa perihnya lambung-lambung yang tak terisi makanan berhari-hari!
Timpang!
Apalagi tentang perihal hiburan! Aku lihat para remaja dan orang-orang dewasa sana ada yang rela mengantre berjam-jam bahkan untuk sekedar mendapatkan tiket konser artis luar negeri yang harganya mencekik bagi sebagian leher. Tapi pada detik yang sama di seberang sana, tepat di seberang tempat konser itu terselenggara, ada beberapa pasang mata yang menatap langit memohon dagangannya setidaknya ada yang terjual hari itu. Baginya hal yang paling mampu menghiburnya saat itu adalah ketika barang dagangannya ada yang laku. Membawa pulang beberapa uang ke rumah kecil nan sempitnya. Ya, hal yang paling bisa menghiburnya saat itu amat sederhana: melihat senyum dari keluarga kecilnya saat kembali pulang ke rumah dan membawa sesuatu dari uang jerih payahnya hari itu.
Sungguh aku semakin tidak paham dengan kehidupan!
Ada yang takut mati dan berharap hidup abadi selamanya, ada pula yang berharap dicabut nyawanya sekarang juga, putus asa dengan semua yang ia jalani, dengan harapan yang tak kunjung tiba sebagai realita. Semua ketimpangan ini ada yang memang skenario Tuhan, tapi ada pula yang timpang karena manusia sendiri yang membuatnya. Nalarku meracau kacau, jadi semakin sulit membedakan mana yang timpang karena memang kehendak Tuhan, dan mana yang bukan. Kalau sudah begini, biasanya pertanyaan yang terlontar adalah: ‘salah siapa?’ Tak mungkin ku jawab ini salah Tuhan! Kalian terlalu naif jika harus mengelak bahwa jawabannya adalah salah manusia. Ya, ini salahku, kamu, kita semua!
Dalam ilmu ekonomi maupun humaniora yang ku pelajari adalah berbunyi sama, intinya ketimpangan ekonomi akan menghasilkan kesenjangan sosial, dan ini kabar buruk bagi negara yang mengalaminya terlalu lama dan terlalu besar jaraknya. Aku mengakui tulisanku yang sedikit bernada emosi kali ini tidak serta merta membuat dunia sekonyong-konyong berubah, bahkan diriku sendiri mungkin. Tapi begitulan manusia, sifatnya yang seringkali khilaf dan lupa ini yang setidaknya harus selalu ada yang bisa mengingatkan. Ah sudahlah, banyak celoteh sekali aku pada tulisan ini. Jadi, sudah tahu apa yang sebaiknya harus segera kita perbaiki? Benar, siapapun kita, sejatinya diri kita sendiri yang harus segera dibenahi. Itu saja dulu.
Ah, kini aku terpaksa berandai bila semua isi kepala itu sama, tentu tak sulit untuk menyadarkan dunia dan seisinya.
***



















Comments